Angin Puting Beliung Terjang Aceh, Ini Penyebab dan Tandanya

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mulai membersihkan rumahnya pasca angin puting beliung melanda kawasan Batutulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat Jumat 7 Desember 2018. Angin puting beliung melanda kawasan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat sekitar pukul 15.00 WIB, pada Kamis sore 6 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    Warga mulai membersihkan rumahnya pasca angin puting beliung melanda kawasan Batutulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat Jumat 7 Desember 2018. Angin puting beliung melanda kawasan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat sekitar pukul 15.00 WIB, pada Kamis sore 6 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Bandung - Selama sepekan awal Januari 2019, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat tujuh kejadian angin puting beliung di berbagai daerah di Indonesia, dengan kasus terbaru di daerah Bener Meriah, Aceh, Senin, 7 Januari 2019.

    Baca: Angin Puting Beliung Melanda Panguragan Cirebon, Ini Kata BMKG

    Daerah yang dilanda angin puting beliung lainnya yaitu Barru dan Wajo (Sulawesi Selatan), Klaten, Wonogiri, Cilacap (Jawa Tengah), Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat), serta Pangkal Pinang (Bangka Belitung).

    Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra mengatakan, angin puting beliung biasanya terjadi ketika memasuki musim pancaroba. Waktunya pada saat siang atau sore hari.

    Saat cuaca tidak menentu akibat faktor siklon tropis sepekan lalu, diakuinya ikut menjadi penyebab. Siklon itu bisa membuat suatu daerah kehilangan hujan sementara di musimnya. "Waktu awal tahun ada beberapa siklon tapi sekarang sudah tidak," katanya, Rabu, 9 Januari 2019.

    Proses terjadinya puting beliung memiliki kaitan yang erat dengan fase tumbuh awan cumulonimbus (CB). Pada fase tumbuh itu, kata Agie, proses pengangkatan massa udara lembap sangat dominan. Adapun di dalam awan sedang terjadi arus udara yang naik ke atas dengan tekanan sangat kuat.

    "Pada fase ini hujan belum turun karena titik air serta kristal es masih tertahan akibat arus udara naik yang lebih besar dari berat partikel-partikel tersebut," ujar Agie.

    Masuk fase dewasa, terjadi perbedaan suhu permukaan bumi dan atmosfer lapisan atas yang cukup besar. Didukung oleh arus udara yang sangat kuat dari permukaan menuju sel awan CB ini, umumnya disertai juga dengan arah angin yang berbeda antara angin lapisan permukaan dan atas. "Ini menyebabkan terbentuknya pusaran angin yang merupakan semacam "penjuluran" dari bagian awan CB hingga mendekati permukaan bumi," katanya.

    Pada fase ini masyarakat bisa memperhatikan gejala atau indikasi munculnya angin puting beliung. "Saat fase awan menjadi gelap, nanti ada udara dingin dan ada pusaran angin kayak belalai gajah," ujar Agie.

    Setelah kondisi itu, berat titik air sudah lebih besar dari arus udara naik sehingga akan mulai terbentuk arus udara turun dan mulai terjadi hujan. "Umumnya di bagian awan CB yang lain di sebelah titik terjadinya puting beliung, terdapat hujan yang cukup signifikan dan hembusan udara dingin yang kuat," ujar Agie.

    Berikutnya fase punah, yaitu tidak ada massa udara yang naik namun massa udara akan meluas di seluruh awan hingga pertumbuhan awan akan berakhir.

    Simak artikel lainnya tentang angin puting beliung di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.