Pengamatan Matahari di Bandung Ramaikan 100 Tahun Astronomi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) mengamati matahari menggunakan teleskop saat berkumpul di halaman Planetarium Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat, 27 Februari 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Anggota Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) mengamati matahari menggunakan teleskop saat berkumpul di halaman Planetarium Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat, 27 Februari 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Bandung - Komunitas penggemar astronomi Langit Selatan di Bandung menghelat pengamatan matahari bagi publik secara gratis. Acara yang berlangsung Sabtu 12 Januari 2019 itu bertempat di Museum Geologi selama dua jam.

    Baca: Aphelion, Jarak Bumi dan Matahari Bertambah 2,5 Juta Kilometer
    Baca: Sebelum Observatorium Timau, Warga Kupang Sudah Akrabi Astronomi

    "Kami bawa dua teleskop ke lokasi publik dan mengajak orang untuk mengamati matahari," kata penggiat komunitas itu Avivah Yamani.

    Kegiatan itu bagian dari perayaan global 100 tahun terbentuknya International Astronomical Union (IAU). Perayaan yang bertajuk Di Bawah Langit yang Sama itu digelar komunitas astronom amatir, himpunan di kampus, kelompok peneliti di berbagai kota penjuru dunia.

    Di pelataran Museum Geologi, komunitas Langit Selatan memasang dua teleskop dan membagikan kacamata kertas yang khusus untuk melihat matahari. "Mataharinya oranye," komentar anak-anak. Tiap kali tersenggol kaki pengamat, posisi teleskop harus segera dibetulkan.

    Puluhan anak dan guru antre mengintip matahari. Tiap kali mendung menghalang, antrean bubar lalu kembali lagi ketika matahari muncul. "Acara ini bagian dari subtema perayaan yaitu 100 Jam Astronomi yang berlangsung dari tanggal 10–13 Januari 2019," kata Avivah.

    Persiapan perayaan satu abad IAU100 sudah dimulai sejak 2018 bersama lebih dari 100 Komite Nasional IAU100 dari berbagai negara di dunia. Sampai saat ini, sudah 700 kegiatan yang terdaftar untuk dilaksanakan di 72 negara.

    Selama empat hari tiga malam itu, para astronom amatir, astronom profesional, penggemar astronomi, dan seluruh masyarakat umum diajak untuk berbagi cerita dan pengetahuan terkait astronomi. Sampai saat ini, lebih dari 250 kegiatan telah didaftarkan untuk dilaksanakan di 50 negara. Semua komunitas bisa ikut ambil bagian dalam upaya memperkenalkan astronomi pada masyarakat.

    Perayaan 100 Tahun Astronomi ini digelar selama setahun. Di Indonesia, beragam kegiatan juga akan dilaksanakan untuk merayakan IAU100. Pada 2018, Observatorium Bosscha merayakan 90 Tahun Teleskop Zeiss yang sudah berkontribusi pada perkembangan astronomi di Indonesia sejak 1928.

    Berbagai kegiatan juga akan dilaksanakan pada 2019 oleh institusi astronomi maupun komunitas astronomi yang tersebar di seluruh Indonesia. Mengawali 2019 untuk 100 Jam, ada Galaxy Day dan Planetarium Show di Bandung, NASE Mini Workshop di Surabaya, Semesta Kita Semua di Yogyakarta, pengamatan Matahari dan langit malam, astrofotografi, lomba esai astronomi, dan berbagai kompetisi lainnya.

    Perayaan Malam Langit Gelap pada saat hari Keantariksaan 6 Agustus dan Pengamatan Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 juga akan menjadi topik utama lainnya dalam perayaan 100 Tahun Astronomi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.