Praktisi Kecerdasan Buatan Berpeluang Mengajar di ITB?

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bukalapak bekerja sama dengan ITB membangun sebuah laboratorium riset AI pertama di Indonesia.

    Bukalapak bekerja sama dengan ITB membangun sebuah laboratorium riset AI pertama di Indonesia.

    TEMPO.CO, Bandung - Seiring berkembangnya teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan menyusupi berbagai bidang kehidupan dan menjadi kebutuhan.

    Baca: General Electric Bangun Pabrik Cerdas, Pakai Kecerdasan Buatan

    Mengingat adanya peluang terserap industri-industri berbasis teknologi yang kini bermunculan, AI menjadi bidang pengetahuan yang diajarkan di tingkat universitas, salah satunya di Institut Teknologi Bandung (ITB).

    Tak melulu dari para pengajar di universitas, para praktisi AI bahkan berpeluang menelurkan ilmu mereka pada mahasiswa, kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, di Bandung, Jumat.

    Dia tak menampik jika salah satu syarat seseorang bisa mengajar di kampus ialah sudah mendapatkan gelar master di bidang ilmu yang dia tekuni. Namun, bukan berarti tak ada peluang bagi para praktisi yang belum menempuh pendidikan magister mengajar di universitas.

    "Bisa menjadi dosen tamu, menguatkan (pemahaman) mahasiwa mengenai kondisi di lapangan. Kami tekankan pada sains dan teknologi. Karena sifatnya lebih aplikatif dan mendekat pada industri yang lebih sesuai," kata dia.

    Nasir mencontohkan, Politeknik Maritim Negeri Indonesia di Semarang yang beberapa pengajarnya adalah praktisi bidang nautica hingga teknik.

    "Contohnya kami punya Politeknik Maritim di Semarang. Dosennya yang S2 hanya 22 dari 28 orang, ada dosen yang D4 dan D3, tetapi punya pengalaman seorang nautica, teknika dan nakhoda kapal. Pengalaman ada yang 10 tahun, 15 tahun. Dia punya sertifikat kompetensi. Lulusan 100 persen diserap industri," papar dia. "Untuk AI, jangan-jangan mereka punya keahlian luar biasa para praktisi ini."

    Dalam kesempatan itu, alumni ITB yang juga Founder & CEO Bukalapak, Achmad Zaky mengatakan AI sudah menjadi bagian mata kuliah di kampusnya, walau sifatnya pengantar.

    Dia berharap nantinya bidang pengetahuan ini bisa menjadi mata kuliah di universitas, mengingat urgensi kebutuhannya untuk dunia industri.

    "Di zaman saya ada mata kuliah AI, tetapi memang hanya pengantar. Memang sudah arahan pak presiden membuka jurusan AI, jadinya fokus. S1. Sekarang mata kuliah, berharapnya bisa padat," kata dia.

    Simak artikel lainnya tentang kecerdasan buatan di kanal Tekno Tempo.co.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lembaga Survei: 5 Hal Penting dalam Quick Count Pilpres 2019

    Perkumpulan Survei Opini Publik angkat bicara soal quick count di Pemilu dan Pilpres 2019 yang diragukan kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.