Jutaan Ancaman Siber di Indonesia, Ini Metode yang Dipakai Hacker

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker. (e-propethic.com)

    Ilustrasi hacker. (e-propethic.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kaspersky Lab, perusahaan keamanan siber, menyatakan telah terjadi puluhan juta ancaman siber di Indonesia baik online maupun offline pada periode Oktober-Desember 2018. Tinjauan ancaman tersebut didasarkan pada data yang diperoleh dan diproses dengan Kaspersky Security Network.

    Baca juga:Serangan Siber Ancam Data Pilpres 2019, Apa Saja Sasarannya?

    "Untuk online biasanya yang paling sering digunakan adalah menyebarkan melalui URL, email atau website. Sedangkan offline, biasanya melalui drive USB yang dapat dilepas," ujar Territory Channel Manager SEA Kaspersky Lab untuk Indonesia Dony Koesmandarin, di Seribu Rasa, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 7 Februari 2019.

    Berikut detil metode yang paling sering dilakukan oleh peretas atau hacker untuk menembus sistem:

    1. Melalui browser

    Dalam insiden ini, peretas memanfaatkan bug dalam perangkat lunak browser atau plugin populer untuk menginfeksi pengguna yang mengunjungi sebuah situs web yang disusupi. Infeksi terjadi tanpa intervensi dari pengguna dan tanpa sepengetahuan pengguna.

    Banyak peretas yang menggunakan pendekatan tersebut untuk menargetkan serangan pada korban. Dalam beberapa kasus, peretas juga menggunakan malware tanpa file yang sulit dideteksi dan dihapus.

    2. Rekayasa sosial

    Metode distribusi malware lain yang banyak digunakan untuk menularkan serangan siber melalui melalui web adalah rekayasa sosial. Serangan ini membutuhkan partisipasi dari pengguna, dengan target yang dikelabui untuk meng-klik tautan dan mengunduh file berbahaya ke komputer pengguna.

    3. Infeksi melalui drive USB

    Ancaman lokal biasanya berasal dari worms dan dokumen bervirus sebagai penyebab sebagian besar insiden berbasis komputer. Hal ini sering terjadi melalui drive USB yang dapat dilepas, CD dan DVD dan metode offline lainnya.

    Baca juga: Freelancer Harus Baca, Ini Cara Menghindari Hacker

    "Contoh kasus, seseorang meninggalkan flash disk, kemudian ada yang menemukan dan ingin mengembalikannya, tapi tidak ada yang mengakuinya," kata Dony. "Akhirnya, yang menemukan itu penasaran tentang isinya, dan mencoba melihat isi data melalui laptop atau komputernya, tanpa sepengetahuannya data dalam laptop itu bisa di-collect hanya dalam waktu 2 detik saja."

    Berita lain tentang ancaman serangan siber dan hacker bisa dibaca di tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.