Lubang Besar Muncul di Tengah Sungai Kuning Gunung Merapi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Viral video air Sungai Kuning masuk ke dalam lubang besar. Kredit: Youtube/Info Viral

    Viral video air Sungai Kuning masuk ke dalam lubang besar. Kredit: Youtube/Info Viral

    TEMPO.CO, Sleman - Sebuah lubang cukup besar berukuran sekitar 4 meter x 3 meter muncul di tengah aliran Sungai Kuning yang berhulu di Gunung Merapi. Lubang itu terjadi di Dusun Sambirejo, Selomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Baca: Luncuran Wedhus Gembel Gunung Merapi Sudah Mencapai 2 Kilometer

    Kemunculan lubang di aliran sungai berhulu Gunung Merapi yang tersebar melalui berbagai media sosial pada Minggu pagi, 10 Februari 2019, tersebut sempat menghebohkan warga.

    Dalam video berdurasi sekitar satu menit lebih nampak ada lubang menganga di tengah Sungai Kuning yang mengakibatkan air tersedot ke dasar sungai.

    Lubang dengan kedalaman sekitar dua meter itu terletak di antara jembatan dan bendungan Sambirejo. Lubang itu diperkirakan terjadi akibat hujan deras yang menyebabkan aliran air yang menggerus dasar sungai sehingga membentuk lubang besar.

    "Munculnya lubang besar tersebut kemungkinan karena hujan lalu ada aliran air deras yang membawa material pasir. Karena pintu air tertutup akhirnya mencari jalan dan menggerus dasar sungai," kata Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman Achmad Subhan ketika ditemui di lokasi, Minggu.

    DPUKP Kabupaten Sleman kemudian mengerahkan dua unit ekskavator untuk melakukan normalisasi sungai. Selain itu, juga membuka pintu air agar aliran air bisa lancar. "Ini alirannya kami buat agar lancar dulu agar tidak masuk ke lubang, hari Senin (11 Februari 2019) lubang akan kami tutup secara permanen," katanya.

    Subhan memastikan kejadian itu untuk sementara tidak berdampak signifikan terhadap konstruksi jembatan maupun bendungan di sekitarnya. "Segera kami tangani agar dampaknya tidak meluas," katanya.

    Ia mengatakan, selain mengerahkan dua alat berat, pihaknya juga mempersiapkan 'bronjong" (jaring pengikat batu) sebanyak 80 buah. Selain itu, juga disiapkan batu untuk menutup lubang yang menganga. "Jika tidak ditangani segera dan fungsi bendungan dikembalikan, daerah bawah dikhawatirkan juga akan terkena dampak," katanya.

    Terkait pintu air yang tidak dibuka saat hujan, pihaknya menjelaskan jika ada prosedurnya. Jika hujan dan potensi banjir besar, pintu air justru harus ditutup. "Jika dibuka dikhawatirkan material akan menyumbat dan pintu air tidak bisa ditutup kembali," katanya.

    Kepala Dusun Sambirejo Giyanto menuturkan kejadian tersebut terjadi hari Jumat siang, 8 Februari 2019, sekitar pukul 11.11 WIB. "Sebenarnya kejadian ini bukan yang pertama. Dulu pernah dua kali kejadian (amblas), tapi sudah ditangani dengan gotong royong warga," katanya.

    Giyanto mengatakan, sebelumnya warga telah menutup lubang kecil itu dengan karung pasir, terpal dan bambu. Namun pada kejadian Jumat siang itu, tanggul buatan warga tidak bisa menahan desarnya air. "Pintu air tidak bisa dibuka selama 16 tahun akibat rusak, dan tanggul buatan tidak bisa menahan, ya akhirnya jebol lagi," katanya.

    Ia membantah bahwa munculnya lubang tersebut karena kegiatan penambangan pasir di sungai itu. "Bangunannya sudah tua dan dulu pernah ada lubang serupa," katanya.

    Simak artikel lainnya tentang Sungai Kuning Gunung Merapi di kanal Tekno Tempo.co.

    Tonton video: Penjelasan BNPB Tentang Air Sungai yang Masuk ke Tanah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.