Cerita Pedagang Kain Keliling Menyelamatkan Bayi Orangutan

Reporter

Editor

Yudono Yanuar

Bayi orangutan bernama Otan meminum susu saat berada di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur, Jakarta, Rabu, 18 Juli 2018. Otan merupakan bayi orangutan yang menjadi korban perdagangan satwa ilegal. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang penjual kain keliling, Suryani yang merupakan warga Desa Tumbang Maya, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menyerahkan seekor anak orangutan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit.

Baca juga: Puan, Orangutan Sumatera Tertua di Dunia, Jalani Euthanasia

"Saya memang merasa sedih karena anak saya juga suka binatang. Tetapi dari awal, saya sadar kalau orangutan ini dilindungi, makanya saya berniat mengambil untuk diserahkan ke BKSDA. Apalagi, saya kasihan karena anak orangutan ini sebelumnya tidak dirawat dengan baik," kata Suryani di Sampit, Jumat, 15 Februari 2019.

Orangutan itu diperoleh Suryani saat berjualan kain keliling ke Desa Tumbang Maya. Suryani melihat ada anak orangutan di salah satu rumah warga. Kondisinya kurus dan terlihat kurang sehat.

Anak orangutan berjenis kelamin betina diperkirakan berusia kurang dari enam bulan itu, sebelumnya ditemukan warga di hutan. Satwa dilindungi yang mempunyai nama latin pongo pygmaeus itu kemudian dibawa pulang oleh warga.

"Saya tertarik membawanya pulang, namun warga tersebut belum mengizinkan. Setelah sampai di rumah, saya bercerita kepada suami tentang kejadian itu," katanya. Sang suami menjelaskan bahwa orangutan merupakan satwa dilindungi sehingga tidak boleh dipelihara tanpa izin, apalagi jika ditempatkan di tempat tidak layak karena rawan mati.

Beberapa hari kemudian, Suryani kembali lagi ke Desa Tumbang Maya dan menjelaskannya kepada warga yang memelihara orangutan tersebut.

Setelah berdiskusi dan Suryani berjanji akan mengganti biaya yang dikeluarkan selama merawat anak orangutan itu, warga tersebut akhirnya bersedia menyerahkannya.

Suryani kemudian membawa pulang dan merawat anak orangutan yang diberi nama Keri. Dia bersama suami dan anaknya kemudian pergi ke Sampit menempuh perjalanan lebih dari lima jam untuk menyerahkan anak orangutan itu kepada BKSDA.

"Saya menghubungi Polsek Antang Kalang dan dihubungkan dengan BKSDA. Saya ambil orangutan itu pada 9 Januari 2019, jadi sekitar satu bulan lebih saya rawat hingga berkesempatan mengantarnya ke Sampit."

"Anak saya sempat meminta untuk merawat lebih lama sebelum diserahkan ke BKSDA," ujar Suryani yang terlihat terharu harus berpisah dengan Keri.

Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit, Muriansyah yang datang mengevakuasi anak orangutan itu, berterima kasih atas kepedulian Suryani dan keluarganya.

Dia mengaku salut karena Suryani rela jauh-jauh datang ke Sampit untuk menyerahkan satwa dilindungi tersebut.

"Anak orangutan ini akan kami bawa ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat untuk direhabilitasi. Kondisi orangutan sehat, walaupun ada luka kecil di bagian kaki, tetapi sudah kering dan badan terlihat kurus," kata Muriansyah.

Dia mengatakan, induk orangutan biasanya tidak pernah meninggalkan anaknya sendirian meski sedang berada di sarang dan akan selalu dibawa ke manapun pergi. Karena itulah Muriansyah menduga induk orangutan itu telah dibunuh oleh seseorang.

Dia mengingatkan masyarakat tidak memelihara orangutan karena melanggar hukum. Orangutan yang dipelihara manusia sangat rawan mati. Satwa yang anatomi tubuhnya mirip manusia ini juga bisa menularkan penyakit berbahaya kepada manusia seperti tubercolosis, hepatitis dan lainnya.

"Warga yang memelihara, apalagi membunuh orangutan diancam sanksi hukum yang berat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5/1990 Pasal 21, menyatakan, siapa saja yang memelihara, memburu, memperjualbelikan dan menyelundupkan orangutan, owaowa, kukang, beruang dan satwa liar dilindungi lainnya, akan dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta," kata Muriansyah.






Pelihara Ikan Aligator Bisa Kena Ancaman Penjara Selama 6 Tahun, Simak Penjelasannya

25 hari lalu

Pelihara Ikan Aligator Bisa Kena Ancaman Penjara Selama 6 Tahun, Simak Penjelasannya

Aturan memelihara ikan aligator tertuang dalam Undang-undang 31 Tahun 2004 yang diubah menjadi Undang-undang 45 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014.


BKSDA Sumbar: Bukan Beruang, Tapi Binturong Satwa yang Dilihat Warga Solok

51 hari lalu

BKSDA Sumbar: Bukan Beruang, Tapi Binturong Satwa yang Dilihat Warga Solok

Warga Nagari Aripan Solok melaporkan telah melihat beruang madu, satu ekor induk dan dua anaknya. Setelah dicek ke lapangan ternyata Binturong.


Putri Singgulung, Sang Harimau Sumatera Dilepasliarkan Kedua Kalinya

4 November 2022

Putri Singgulung, Sang Harimau Sumatera Dilepasliarkan Kedua Kalinya

Harimau Sumatera yang bernama Putri Singgulung untuk kedua kalinya dilepasliarkan ke habitatnya di salah satu hutan konservasi Pulau Sumatera.


Cerita Bayi Orang UtanTapanuli Sendirian di Bawah Pohon Durian

30 September 2022

Cerita Bayi Orang UtanTapanuli Sendirian di Bawah Pohon Durian

Inisiatif warga Pahae menyelamatkannya mendapat pujian. Orang utan Tapanuli adalah spesies ketiga setelah spesies orang utan Kalimantan dan Sumatera.


Kawasan Suaka Margasatwa Dangku Dorong Kelompok Tani Hutan Konservasi

28 September 2022

Kawasan Suaka Margasatwa Dangku Dorong Kelompok Tani Hutan Konservasi

Suaka Margasatwa Dangku menjadi salah satu lokasi target Indonesia FOLU Net Sink 2030.


Marak Topeng Monyet, BKSDA Kalimantan Tengah Minta Warga Melaporkan

21 September 2022

Marak Topeng Monyet, BKSDA Kalimantan Tengah Minta Warga Melaporkan

Pertunjukan topeng monyet iberdampak negatif bagi manusia ataupun satwa monyetnya.


BKSDA Jakarta Gagalkan Penyelundupan Serangga dalam Boneka ke Arab Saudi

6 September 2022

BKSDA Jakarta Gagalkan Penyelundupan Serangga dalam Boneka ke Arab Saudi

Kini hewan tersebut diamankan oleh BKSDA Jakarta dan direncanakan akan dilepasliarkan.


BKSDA Lepas Empat Kukang ke Cagar Alam Maninjau

16 Agustus 2022

BKSDA Lepas Empat Kukang ke Cagar Alam Maninjau

Empat kukang tersebut terdiri dari tiga ekor yang merupakan barang bukti kejahatan perdagangan satwa dan satu ekor merupakan penyerahan warga


BKSDA Melepasliarkan Burung Kacer di Gunung Poteng Singkawang

7 Agustus 2022

BKSDA Melepasliarkan Burung Kacer di Gunung Poteng Singkawang

Puluhan burung yang dilepasliarkan adalah merupakan hasil penangkaran burung CV Enggang, salah satu penangkar binaan BKSDA Kalbar.


Jasad Remaja Dekat Buaya di Danau Tolire, BKSDA Tegaskan Bahaya dan Larangan Ini

5 Agustus 2022

Jasad Remaja Dekat Buaya di Danau Tolire, BKSDA Tegaskan Bahaya dan Larangan Ini

BKSDA telah mengevakuasi jasad seorang remaja dari Danau Tolire pada Kamis