Studi NASA Ungkap India dan Cina Bikin Bumi Jadi Lebih Hijau

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Seorang peserta membawa pesan `Hijaukan Bumiku` saat mengikuti Parade Daun di desa wisata Kandri, Gunungpati, Semarang, 19 April 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    Seorang peserta membawa pesan `Hijaukan Bumiku` saat mengikuti Parade Daun di desa wisata Kandri, Gunungpati, Semarang, 19 April 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi yang dilakukan oleh lembaga antariksa dan penerbangan Amerika Serikat atau NASA, mengungkapkan bahwa Bumi memiliki tempat yang lebih hijau dibandingkan 20 tahun yang lalu. Laman India Today, beberapa hari yang lalu melaporkan bahwa India dan Cina memimpin upaya penghijauan global.

    Baca: Bumi Terlihat Semakin Hijau dari Angkasa

    "Cina dan India merupakan sepertiga dari penghijauan, tapi hanya mengandung 9 persen dari luas daratan planet yang tertutup vegetasi," ujar penulis utama penelitian tersebut Chi Chen dari Boston University. "Itu adalah temuan yang mengejutkan, mengingat gagasan umum degradasi lahan di negara-negara berpenduduk padat akibat eksploitasi berlebihan".

    Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability itu bertujuan untuk mengungkap data satelit baru-baru ini dan pola penghijauan yang sangat menonjol di Cina dan India, serta tumpang tindih dengan lahan pertanian di seluruh dunia. Cina menyumbang 25 persen dari peningkatan bersih global dalam luas daun 6,6 persen dari luas vegetasi global.

    Penghijauan di Cina adalah dari hutan (42 persen) dan lahan pertanian (32 persen), tapi di India sebagian dari lahan pertanian (82 persen) dengan kontribusi kecil dari hutan (4,4 persen). Di India, secara keseluruhan, sepertiga lahan tumbuhan menjadi hijau, sedangkan 5 persen menjadi coklat.

    Menurut ilmuwan riset dari Ames Research Center NASA dan penulis pendamping penelitian, Rama Nemani, ketika penghijauan Bumi pertama kali diamati, dia berpikir itu disebabkan oleh iklim yang lebih hangat, lebih basah dan pemupukan dari penambahan karbon dioksida di atmosfer. "Sekarang dengan data Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS), kita melihat bahwa manusia juga berkontribusi," kata Nemani.

    Kontribusi besar Cina terhadap tren penghijauan global sebagian besar berasal dari program-programnya untuk melestarikan dan memperluas hutan dengan tujuan mengurangi degradasi lahan, polusi udara, dan perubahan iklim. Produksi makanan di Cina dan India telah meningkat lebih dari 35 persen sejak tahun 2000, sebagian besar karena peningkatan area panen melalui berbagai tanam yang difasilitasi oleh penggunaan pupuk dan irigasi permukaan dan atau air tanah.

    "Begitu orang menyadari ada masalah, mereka cenderung memperbaikinya. Pada 1970-an dan 80-an di India dan Cina, situasi di sekitar hilangnya vegetasi tidak baik," tutur Nemani. "Sementara pada 1990-an, orang-orang menyadarinya, dan hari ini segalanya telah membaik. Manusia luar biasa tangguh. Itu yang kita lihat di data satelit."

    Studi ini dimungkinkan karena catatan data selama dua dekade dari instrumen MODIS pada satelit Terra dan Aqua NASA. MODIS menyediakan cakupan intensif dalam ruang dan waktu. Sensor telah menangkap hingga empat bidikan dari hampir setiap tempat di Bumi, setiap hari, selama 20 tahun terakhir.

    Simak kabar terbaru tentang Bumi hijau hanya di kanal Tekno Tempo.co

    INDIA TODAY | NATURE SUSTAINABILITY


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Ahok dalam Empat Nama Kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara Baru

    Nama Ahok sempat disebut dalam empat nama kandidat kepala otorita Ibu Kota baru. Siapa tiga nama lain yang jadi calon pengelola IKN Nusantara?