Peneliti: Tsunami Anak Krakatau dari Longsoran Akibat Gempa

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pantauan udara dari lokasi terjadinya tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang, dan Pantai Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten pada Ahad, 23 Desember 2018. Tsunami ini diduga akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. TEMPO/Syafiul Hadi

    Suasana pantauan udara dari lokasi terjadinya tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang, dan Pantai Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten pada Ahad, 23 Desember 2018. Tsunami ini diduga akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Bandung - Tsunami Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 lalu diyakini disebabkan oleh longsoran yang dipicu gempa bumi. Peneliti dari Pusat Survei Geologi Asdani Soehami menyimpulkan kejadian itu dengan analisis data mekanisme sumber gempa bumi.

    Baca: Peneliti Geologi: Waspada Gempa Besar dan Tsunami Selat Sunda

    “Terjadi gempa di sana dan record-nya ada,” kata Asdani saat acara Geoseminar di Auditorium Museum Geologi Bandung, Jumat, 15 Maret 2019. 

    Sebelum muncul tsunami, ujarnya, ada catatan gempa dari badan geofisika Jerman, GFZ. Besaran gempanya 5,0 di sekitar Gunung Anak Krakatau. Lindu itu juga tercatat empat stasiun pemantau Badan Geologi seperti di Rajabasa Lampung, Gunung Gede, Salak, dan Sertung.

    Peneliti gempa itu mendapat kesamaan dengan data GFZ terkait mekanisme fokal atau mekanisme sumber gempa bumi. “Hasilnya memperkuat keyakinan saya memang terjadi gempa, dan ada rekaman gempa dari berbagai lokasi,” ujarnya.

    Mekanisme itu disebutnya strike slip dan pusat gempanya di dekat Gunung Anak Krakatau. Peristiwa gempa bumi itu patahan aktif mendatar menganan turun. Gunung itu, menurutnya, teriris oleh kelurusan patahan, sehingga saat terjadi gempa itu, ada blok batuan yang turun dan naik.

    Blok yang turun itu kemudian meruntuhkan material sedimen hasil letusan gunung yang bertumpuk di lereng sebelah tenggara-barat daya. Longsoran itu, kata Asdani, kemudian meluncur ke dalam cekungan di laut sekitar gunung. “Begitu longsor masuk cekungan sedalam 300 meter, itu bisa menimbulkan tsunami yang cukup dahsyat,” ujarnya.

    Gempa dan longsoran itu, menurutnya, terjadi dengan gerakan cepat. Dari hasil perbandingannya dengan tsunami letusan Gunung Krakatau 1883, daerah landaannya persis dengan tsunami Desember 2018.

    Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) juga mencatat adanya getaran setara magnitude 3,4 yang bertitik sumber di lereng Gunung Anak Krakatau. Namun BMKG tidak mengakuinya sebagai gempa bumi, melainkan longsoran material gunung. "Kalau gempa dengan kekuatan (magnitude) 5, mana ada manusia tidak merasakan," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono saat dihubungi Senin, 24 Desember 2018.

    Longsoran itu, menurut BMKG, kemudian memicu tsunami, di antaranya sekitar setengah jam kemudian sampai di pesisir barat Banten.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.