BMKG: Potensi Gelombang Tinggi 4 Meter di Beberapa Lokasi Ini

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bendera merah, peringatan kondisi berbahaya, terlihat di sebuah pantai ketika badai Pabuk mendekati provinsi selatan Nakhon Si Thammarat, Thailand, 4 Januari 2019. Phuwieng Prakhammintara, Direktur Badan Meteorologi Thailand mengatakan badai Pabuk bisa menyebabkan gelombang tinggi sekitar tujuh meter. Namun diperkirakan rata-rata tinggi gelombang sekitar tiga meter sampai lima meter. REUTERS/Krittapas Chaipimon

    Bendera merah, peringatan kondisi berbahaya, terlihat di sebuah pantai ketika badai Pabuk mendekati provinsi selatan Nakhon Si Thammarat, Thailand, 4 Januari 2019. Phuwieng Prakhammintara, Direktur Badan Meteorologi Thailand mengatakan badai Pabuk bisa menyebabkan gelombang tinggi sekitar tujuh meter. Namun diperkirakan rata-rata tinggi gelombang sekitar tiga meter sampai lima meter. REUTERS/Krittapas Chaipimon

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini akan potensi gelombang tinggi kisaran 2,5 hingga 4 meter. Gelombang tersebut diperkirakan akan terjadi di Samudera Hindia selatan Jawa dan Laut Natuna Utara.

    Gelombang itu akan terjadi dalam kurun waktu empat hari mulai Selasa, 26 Maret 2019 hingga Sabtu, 29 Maret 2019. Potensi gelombang tinggi terjadi menyusul adanya siklon tropis Veronica (989 hPa) di Samudera Hindia barat laut Australia.

    "Pola sirkulasi tercatat berada di Samudera Hindia Barat Daya Kepulauan Mentawai dan Samudra Pasifik Timur Laut Papua. Faktor pendukung lainnya adalah kecepatan angin yang terpantau terjadi di Laut Natuna Utara, Perairan Kepulauan Sangihe-Kepulauan Talaud, Perairan utara Papua dan Kepulauan Kai-Aru," ujar juru bicara BMKG Hary Tirto Djatmiko, Selasa, 26 Maret 2019.

    Potensi gelombang tinggi tidak hanya terjadi di 2 wilayah tersebut, tapi juga berpotensi terjadi di 23 wilayah Indonesia lainnya dengan kisaran yang lebih rendah yaitu 1,25 hingga 2,5 meter. 

    Wilayah tersebut di antaranya Perairan Utara Sabang, Perairan Sabang-Banda Aceh, Perairan Barat Aceh, Perairan Barat Kepulauan Simeulue hingga Mentawai, Perairan Enggano-Bengkulu, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia barat Sumatera, Selat Sunda bagian selatan, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Sumba.

    Selain itu, Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan, Laut Sawu, Perairan selatan Kupang-Rote, Selat Sumba bagian barat, Perairan Utara Kepulauan Anambas hingga Natuna, Perairan Utara Sulawesi, Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud.

    Juga di Laut Maluku, Perairan Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, Perairan Utara Papua Barat hingga Papua, Laut Arafuru bagian barat, Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua. "Terkait potensi gelombang tinggi tersebut, nelayan diimbau untuk berhati-hati dan memperhatikan risiko keselamatan pelayaran," kata Hary.

    Beberapa moda transportasi yang rawan di antaranya perahu nelayan dengan kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m, kapal tongkang dengan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m.

    Selain itu, kapal ferry dengan kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m, serta kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar dengan kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m.

    BMKG juga mengimbau masyarakat yang berdomisili dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi serta wilayah pelayaran padat agar selalu waspada. "Jika terjadi gelombang tinggi, segera berlari menjauh ke tempat yang lebih tinggi dan aman," tutur Hary.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.