Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Budi Daya Tanaman Hias Teknik Kokedama Semakin Diminati Warga

Reporter

Editor

Erwin Prima

image-gnews
Budi daya tanaman hias teknik Kokedama semakin diminati warga. Youtube/GreenTV IPB
Budi daya tanaman hias teknik Kokedama semakin diminati warga. Youtube/GreenTV IPB
Iklan

TEMPO.CO, Kediri - Budi daya tanaman hias dengan pot dipercantik menggunakan teknik "kokedama" di Kediri, Jawa Timur, semakin diminati warga, karena hiasannya yang menarik.

Baca: Mudik? Rawat Dulu Tanaman Hias di Rumah dengan 2 Cara Ini

Rahman, salah seorang warga Kediri, mengaku sangat menyukai tanaman. Ia juga suka bereksperimen tentang berbagai macam model hiasan tanaman, termasuk membuat pot bunga. Ia tertarik dengan teknik kokedama, yakni seperti bot bunga yang dibentuk dari bola tanah, ditutupi lumut, tempat tanaman hias tumbuh.

"Saya suka dengan tanaman dan suka uji coba berbagai model hiasan. Misalnya dengan teknik kokedama ini, saya mencoba bereksperimen dengan benang dari karung goni," katanya di Kediri, Jumat, 29 Maret 2019.

Ia mengungkapkan, dari uji coba yang telah dilakukannya, ternyata benang dari karung goni juga menarik. Namun, ternyata daya tahan dari benang karung goni tidak lama, sekitar satu bulan, sebab setelahnya muncul jamur. Jika dibiarkan, hal itu bisa membuat tanaman menjadi cepat busuk.

Rahman juga mengungkapkan, tanaman hias yang dihias dengan teknik "kokedama" ini juga bisa berbagai macam bunga bahkan untuk tanaman keras juga bisa. Hal itu juga tergantung dari model dan cara menghiasnya.

Untuk awal, Rahman menyebut tanah yang telah diambil harus dibersihkan dari berbagai sampah dan kerikil. Lalu, tanah dicampur dengan sedikit air, diuleni seperti membuat roti dan setelah liat tanah dibentuk menyerupai bola.

Bola tanah itu, kata dia, juga tidak boleh terlalu lembek atau kebanyakan air, sebab akan mengurangi tingkat keseimbangan. Setelah dirasa cukup, bola tanah dibelah menjadi dua, di bagian tengahnya diberi bunga. Lalu, belahan dari tanah direkatkan kembali, dibungkus dengan menggunakan serat dari sabut kelapa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Rahman mengungkapkan, serat tersebut berfungsi untuk menutup bola tanah agar semakin kokoh dan membuat air tidak cepat menetes saat dicelupkan untuk disirami.

"Jadi, setelah bola tanah diberi serat lalu ditali dengan benang dari karung goni. Setelahnya dicelupkan ke air sekitar satu menit agar meresap. Sesudahnya bisa digantung atau ditaruh ke tempat yang diinginkan," kata dia.

Ia menyebut, saat ini sedang berupaya mencoba menggunakan serat nanas, karena dinilai lebih tahan terhadap jamur. Selain itu, juga terdapat benang lain dengan berbagai macam warna, namun harganya juga relatif lebih mahal.

Sesuai dengan namanya, seharusnya menggunakan lumut, namun karena harganya mahal, sehingga dibungkus dengan benang.

Rahman mengungkapkan, banyak temannya yang tertarik dengan teknik ini, karena hiasannya yang unik dan bisa dijadikan sebagai aksesori termasuk di meja kerja. Ia juga tidak sungkan memberikan ilmunya kepada rekan yang ingin belajar.

Ia juga mengatakan, selama ini banyak tanaman hias ukuran kecil yang dibuat hiasan dengan teknik tersebut. Namun, sebenarnya bukan hanya tanaman ukuran kecil, melainkan ukuran besar juga bisa. Untuk tanaman ukuran besar, bisa menggunakan media pot yang juga dihias dengan tali.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Termasuk Kategori Tanaman Beracun, Bahaya Kecubung Lebih Besar dari Manfaatnya

8 hari lalu

Ilustrasi Keracunan
Termasuk Kategori Tanaman Beracun, Bahaya Kecubung Lebih Besar dari Manfaatnya

Karena lebih besar bahaya daripada manfaatnya, kecubung masuk kategori tanaman beracun


Viral Mabuk Kecubung, Pakar Ungkap Alasan Tanaman Ini Tak Lagi Digunakan untuk Obat Tradisional

9 hari lalu

Buah Kecubung Bisa Membuat Halusinasi? Begini Penjelasannya
Viral Mabuk Kecubung, Pakar Ungkap Alasan Tanaman Ini Tak Lagi Digunakan untuk Obat Tradisional

Pakar mengatakan kecubung sudah tidak digunakan lagi sebagai obat tradisional karena efek sampingnya yang berbahaya.


Taman Aglaonema yang Diklaim Terbesar di Dunia Diresmikan di Puri Mataram Yogyakarta

31 hari lalu

Taman Aglaonema di Puri Mataram Yogyakarta. Tempo/Pribadi Wicaksono
Taman Aglaonema yang Diklaim Terbesar di Dunia Diresmikan di Puri Mataram Yogyakarta

Total ada sebanyak 90.000 tanaman aglaonema yang terdiri dari 209 spesies di Taman Aglaonema Sleman, Yogyakarta.


Saran Pelaku Usaha buat yang Ingin Berkebun di Perkotaan

49 hari lalu

Ilustrasi urban farming/berkebun di perkotaan. Shutterstock
Saran Pelaku Usaha buat yang Ingin Berkebun di Perkotaan

Berikut saran bagi yang ingin memulai hobi berkebun di wilayah perkotaan, di mana lahan bebas tanam biasanya terbatas.


Hal-hal yang Diperhatikan Tamu saat Memasuki Rumah Anda

59 hari lalu

Ilustrasi ruang tamu. Unsplash.com/Ian Dooley
Hal-hal yang Diperhatikan Tamu saat Memasuki Rumah Anda

Anda perlu paham apa yang biasa diperhatikan orang saat bertamu. Berikut hal-hal yang biasa membuat tamu terkesan.


Macam Tanaman yang Berbahaya buat Hewan Peliharaan

23 Mei 2024

Bunga tulip di Amsterdam, Belanda. Unsplash.com/Daniel Spilka
Macam Tanaman yang Berbahaya buat Hewan Peliharaan

Sebelum membeli tanaman dan bunga, lakukan riset dulu sehingga tak membahayakan hewan peliharaan. Apa saja yang berbahaya?


KKP Yakin Indonesia Kuasai teknologi Budi Daya Rumput Laut dari Hulu ke Hilir

23 Mei 2024

Pemandangan budidaya rumput laut milik warga di Nusa Lembongan, Bali, 25 September 2020. REUTERS/Nyimas Laula
KKP Yakin Indonesia Kuasai teknologi Budi Daya Rumput Laut dari Hulu ke Hilir

KKP yakin Indonesia memiliki potensi besar untuk mengelola bahan baku rumput laut ke produk yang memiliki nilai tambah atau siap pakai


Kejati Aceh Periksa Ketua BRA Suhendri sebagai Saksi Korupsi Anggaran Budi Daya Ikan Kakap Rp 15 Miliar

18 Mei 2024

Ilustrasi korupsi. Shutterstock
Kejati Aceh Periksa Ketua BRA Suhendri sebagai Saksi Korupsi Anggaran Budi Daya Ikan Kakap Rp 15 Miliar

Kejati Aceh memeriksa Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Suhendri perihal dugaan korupsi penyimpangan dan pengadaan budi daya ikan kakap.


Jokowi Resmikan Budi Daya Ikan Nila, Trenggono: Produksi 10 Ribu Ton per Tahun

8 Mei 2024

Jokowi Resmikan Budi Daya Ikan Nila, Trenggono: Produksi 10 Ribu Ton per Tahun

Menteri Trenggono menargetkan Modeling Budi Daya Ikan Nila Salin di Kawarang, Jawa Barat dapat menghasilkan 10 ribu ton ikan per tahun.


3 Tips agar Rumah Terhidar dari Kebakaran saat Musim Kemarau

2 Mei 2024

Damkar Depok dibantu warga memadamkan kebakaran di rumah warga Jalan Lengkeng, RT. 3/1 Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok, Kamis malam, 25 Januari 2024. TEMPO/Ricky Juliansyah
3 Tips agar Rumah Terhidar dari Kebakaran saat Musim Kemarau

Berikut tiga tips yang dapat membantu mengurangi risiko kebakaran rumah dari dampak musim kemarau.