Peringatan BMKG: 7 Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi 4 Meter

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan mengamati ombak tinggi di kawasan wisata Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, Yogyakarta, Jumat, 20 Juli 2018. Pada 25 dan 26 Juli, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 5-6 meter. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    Wisatawan mengamati ombak tinggi di kawasan wisata Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, Yogyakarta, Jumat, 20 Juli 2018. Pada 25 dan 26 Juli, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 5-6 meter. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meluncurkan peringatan dini gelombang tinggi kisaran 2,5 hingga 4 meter. Gelombang tinggi tersebut kemungkinan terjadi di tujuh wilayah perairan Indonesia dalam tiga hari ke depan, 15-17 April 2019.

    Baca: BMKG: Potensi Gelombang Tinggi 4 Meter di Beberapa Lokasi Ini

    Wilayah perairan tersebut adalah Perairan Enggano–Bengkulu, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Lombok, Perairan Barat Lampung, Selat Bali–Selat Lombok bagian selatan, Selat Sunda bagian selatan, Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTB, dan Samudera Hindia barat Bengkulu hingga Lampung.

    Potensi gelombang tinggi terjadi menyusul adanya pola angin bertekanan rendah 1010 hPa di Samudera Hindia Barat Daya Banten. Pola angin di wilayah utara Indonesia umumnya dari Timur Laut ke Tenggara dengan rata-rata kecepatan 3-15 knot, sedangkan di wilayah selatan Indonesia umumnya dari Timur ke Selatan dengan kecepatan 3-15 knot.

    Sementara itu, kecepatan angin tertinggi terpantau di Samudera Hindia Selatan NTT, Laut Sulawesi bagian Timur, Perairan Utara Halmahera, serta Samudera Pasifik Utara Halmahera. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

    Selain itu, beberapa daerah juga tercatat berpeluang mengalami gelombang tinggi dengan ketinggian yang lebih rendah yaitu berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter. Daerah tersebut di antaranya Perairan Utara Sabang, Perairan Sabang–Banda Aceh, Perairan Kep. Babar–Kep. Tanimbar, Perairan Barat Aceh, Perairan Kep. Simeulue hingga Kep. Mentawai, Samudera Hindia barat Aceh hingga Kep. Mentawai.

    Selain itu, terjadi pula di Perairan Selatan P. Sumbawa, Selat Alas bagian selatan, Perairan Selatan P. Sumba hingga P. Rotte, Selat Sumba bagian barat, Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, Laut Timor selatan NTT, Samudera Hindia selatan NTT, Perairan Selatan Kep. Sermata hingga Tanimbar.

    Juga Laut Arafuru, Selat Makassar bagian utara, Perairan Utara Sulawesi, Laut Sulawesi, Perairan Bitung – Manado, Perairan Kep. Sangihe hingga Kep. Talaud, Laut Maluku bagian utara, Perairan utara hingga timur Halmahera, Laut Halmahera, Perairan Utara Papua Barat hingga Papua, dan terakhir Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua.

    BMKG mengimbau kepada masyarakat terutama nelayan yang beraktivitas di sekitar wilayah tersebut untuk memperhatikan risiko terhadap keselamatan pelayaran pada beberapa moda transportasi. Perahu nelayan (Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m), dan kapal tongkang (Kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m).

    Selain itu kapal ferry (Kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m), dan kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar (Kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m).

    Masyarakat yang berdomisili dan beraktivitas di area pesisir yang berpeluang terjadi gelombang tinggi serta wilayah pelayaran padat juga diimbau agar tetap selalu waspada. Jika terjadi gelombang tinggi, berlarilah menjauh menuju tempat yang lebih tinggi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.