18 Prediksi Kontroversial Sejak Hari Bumi Pertama 1970

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjuk rasa membawa hasil bumi ketika mengikuti aksi yang diiprakarsai oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 11 Desember 2018. Aksi memperingati hari HAM Internasional tersebut menuntut  pemerintah menyelesaikan persoalan pejuang lingkungan hidup. ANTARA/Dede Rizky Permana

    Pengunjuk rasa membawa hasil bumi ketika mengikuti aksi yang diiprakarsai oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 11 Desember 2018. Aksi memperingati hari HAM Internasional tersebut menuntut pemerintah menyelesaikan persoalan pejuang lingkungan hidup. ANTARA/Dede Rizky Permana

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini, Senin, 22 April 2019 adalah peringatan Hari Bumi. Dalam majalah Reason edisi Mei 2000, koresponden sains pemenang penghargaan Ronald Bailey menulis sebuah artikel bagus berjudul 'Earth Day, Then and Now: The planet’s future has never looked better. Here’s why'. Artikel tersebut memberikan beberapa perspektif historis pada peringatan 30 tahun Hari Bumi.

    Baca: Hari Bumi 2019: 6 Fakta yang Mengkhawatirkan dari Bumi
    Baca: Google Doodle Merayakan Hari Bumi: Keindahan Planet Kita

    Dalam artikel itu, Bailey mencatat bahwa pada Hari Bumi pertama tahun 1970, dan tahun berikutnya, terdapat prediksi yang ditampilkan beserta alasannya. Nah, sekarang peringatan 49 tahun Hari Bumi, saat yang tepat untuk mengajukan pertanyaan lagi yang diajukan Bailey 19 tahun yang lalu: Seberapa akurat prediksi yang dibuat sekitar waktu Hari Bumi pertama tahun 1970?

    Berikut adalah 18 contoh prediksi salah yang dibuat sekitar tahun 1970 ketika Hari Bumi dimulai:

    1. Ahli biologi Harvard George Wald memperkirakan bahwa peradaban akan berakhir dalam 15 atau 30 tahun kecuali jika tindakan segera diambil terhadap masalah yang dihadapi umat manusia.

    2. Ahli biologi Universitas Washington Barry Commoner dalam edisi Hari Bumi jurnal ilmiah Environment menyatakan bahwa manusia berada dalam krisis lingkungan yang mengancam kelangsungan hidup bangsa dan dunia sebagai tempat tinggal yang layak bagi manusia.

    3. Sehari setelah Hari Bumi pertama, halaman editorial New York Times memperingatkan bahwa manusia harus menghentikan polusi dan melestarikan sumber dayanya. "Tidak hanya untuk meningkatkan eksistensi tapi untuk menyelamatkan ras dari kerusakan yang tak tertahankan dan kemungkinan kepunahan," tulis editorial.

    4. Ilmuwan peraih Nobel di bidang hematologi, imunologi, dan kemoterapi antimikroba Paul Ehrlich dalam Mademoiselle Magazine edisi April 1970 menyatakan bahwa populasi sepenuhnya akan melampaui apa pun peningkatan kecil dalam pasokan makanan yang dibuat. "Tingkat kematian akan meningkat hingga setidaknya 100-200 juta orang per tahun akan mati kelaparan selama sepuluh tahun ke depan," ujar Ehrlich Ilmuwan berdarah Jerman-Yahudi itu.

    5. Paul Ehrlich juga menuliskan essai pada 1969 berjudul "Eco-Catastrophe!". Dalam esai tersebut, Ehrlich menyatakan bahwa sebagian besar orang akan mati akibat bencana terbesar dalam sejarah manusia.

    Sedangkan pada 1975 beberapa ahli merasa bahwa kekurangan makanan akan meningkatkan tingkat kelaparan dunia saat itu dengan proporsi yang luar biasa. Pakar lain, yang lebih optimis, berpendapat bahwa tabrakan makanan-penduduk utama tidak akan terjadi sampai dekade 1980-an.

    6. Ehrlich juga membuat skenario


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.