Smartphone Huawei Tumbuh Melewati iPhone, Ancam Samsung

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bocoran Huawei Mate 30 Pro. (new.qq.com)

    Bocoran Huawei Mate 30 Pro. (new.qq.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Enam kuartal berturut-turut pasar smartphone atau ponsel pintar mengalami penurunan sejauh ini. Para pemimpin pasar seperti Apple dan Samsung benar-benar merasakan sakitnya, tapi tidak dengan Huawei.

    Baca: Huawei, Xiaomi dan Oppo Mulai Luncurkan Smartphone 5G di Swiss

    Menguat di Eropa, Huawei mengalami pertumbuhan penjualan smartphone 50 persen pada Q1 tahun ke tahun, sementara Apple anjlok 30 persen, menurut IDC sebagaimana dilaporkan Toms Guide, akhir pekan ini.

    Samsung tidak seburuk Apple, tetapi pengirimannya masih turun 8 persen, dan itu sebelum termasuk bencana Galaxy Fold.

    Bagian yang menakutkan adalah ponsel Huawei bahkan tidak dijual secara resmi di A.S. Ini sebagian besar karena masalah keamanan dan tautan yang dilaporkan antara Huawei dan pemerintah Cina. Huawei telah membantah klaim tersebut dan menuntut pemerintah A.S. Namun Huawei tetap berkembang.

    "Huawei tidak perlu memiliki posisi di AS," kata Peter Richardson dari Counterpoint Research. "Bekerja dengan operator A.S. bisa mahal karena kebutuhan untuk pengujian ekstensif dan kemudian dukungan pemasaran."

    Terlepas dari kontroversi politik, Huawei telah menjadi salah satu pembuat smartphone paling inovatif selama beberapa tahun terakhir. Misalnya, pada tahun 2016, Huawei P9 adalah ponsel pertama yang direkayasa bersama dengan Leica dengan penembak dua lensa.

    Huawei Mate 10 pada 2017 adalah smartphone pertama dengan chip AI tertanam. Dan Huawei Mate 20 Pro tahun lalu adalah ponsel pertama di dunia yang menawarkan pengisian daya nirkabel terbalik (jauh sebelum Galaxy S10).

    TOMS GUIDE | BUSINESS INSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.