Persiapan Mau Nikah? Coba Aplikasi Canika Karya 3 Mahasiswa ITB

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aplikasi marketplace Canika menghubungkan penyedia jasa pernikahan dengan calon pengantin. (canika/google)

    Aplikasi marketplace Canika menghubungkan penyedia jasa pernikahan dengan calon pengantin. (canika/google)

    TEMPO.CO, Bandung - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung ITB membuat aplikasi bernama Canika. Perangkat lunak itu semacam marketplace yang menghubungkan beragam penyedia jasa pernikahan dengan pasangan yang ingin menikah. Idenya hasil pengembangan dari tugas kuliah.

    Selain Canika, Mahasiswa ITB Juga Membuat Chatbot

    Nama Canika berasal dari bahasa Sunda, can dan nikah yang artinya belum menikah. Dari informasi di aplikasinya, mereka akan menyiapkan sembilan jenis kebutuhan pernikahan. Kategorinya meliputi tempat, baju, mobil, riasan, makanan, dekorasi, undangan, pendokumentasi, dan bunga.

    “Minggu depan insya Allah sudah bisa digunakan,” kata salah seorang pembuatnya, Aninda Annisa, Rabu, 8 Mei 2019.

    Aninda bersama Rajna Habibah dan Karina Alifa, yang sama-sama mahasiswa Manajemen Sekolah Bisnis Manajemen ITB, mengawali bisnis startup itu dari tugas kuliah. Rintisannya dimulai Januari 2018. Di aplikasi itu, para vendor atau penyedia jasa bisa bergabung dengan gratis. Pun pengguna yang harus mendaftar sebagai pelanggan.

    Mereka nantinya bisa saling berinteraksi di aplikasi termasuk negosiasi harga. Sementara ini aplikasi Canika masih purwarupa dan telah dipajang di toko aplikasi berbasis Android. “Tujuan kami rilis prototipe itu hanya untuk memberikan gambaran ke orang bagaimana dan seperti apa Canika itu,” ujar Aninda.

    Rencananya mereka akan menjaring vendor pernikahan dan calon pengantin secara luas. Namun pada tahap awal pemasaran akan tertuju ke dua kota. “Kami akan fokus di Bandung dan Jakarta terlebih dulu,” katanya.

    Soal penghasilan startup ini, menurut Aninda, bukan berasal dari komisi vendor ataupun konsumen. “Sistemnya bukan dari persenan tapi dari unique code pada harga,” ujar Aninda. Menurutnya penghasilan bukan jadi fokus utama sekarang. Hal penting bagi startup adalah value tinggi dan mendapat investor.

    Mengutip dalam laman ITB, Canika berawal dari tugas mata kuliah Leadership and Management Practice. Ide itu berlanjut ke tugas mata kuliah Integrated Business Experience.

    Pengembangan Canika mendapatkan pendanaan dan bimbingan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dari Perguruan Tinggi (CPPBT-PT). Dana yang diperoleh ratusan juta rupiah.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.