Muncul di Singapura, Apa Itu Virus Langka Cacar Monyet?

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Laki-laki, 38 tahun, asal Nigeria, positif menderita penyakit monkeypox. Sumber: The Straits Times

    Laki-laki, 38 tahun, asal Nigeria, positif menderita penyakit monkeypox. Sumber: The Straits Times

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyebaran virus langka cacar monyet atau monkeypox ditemukan di Singapura. Melansir laman Reteurs, Selasa, 14 Mei 2019, kabar tersebut sudah dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Singapura.

    Baca: Singapura Laporkan Kasus Pertama Virus Langka Cacar Monyet

    Informasinya, virus itu dibawa oleh seorang lelaki asal Nigeria yang mungkin telah terinfeksi oleh daging hewan liar yang dimakannya di sebuah pernikahan. Namun, belum banyak yang tahu apa itu virus cacar monyet atau monkeypox.

    Laman statnews beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa cacar monyet merupakan  penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox, sepupu dari virus penyebab cacar yang sekarang diberantas. Meskipun cacar telah diberantas, namun ada sejumlah virus cacar terkait: kerbauopoks, camelpox dan cacar sapi.

    Virus itu berasal dari keluarga virus yang berbeda dari cacar air. Namun, seperti cacar air dan cacar, monkeypox menyebabkan ruam yang membentuk cacar bulat yang dapat melukai.

    Monkeypox pertama kali terlihat di monyet laboratorium pada 1958, karena itu dinamakan monkeypox. Dan monyet termasuk di antara sejumlah spesies - termasuk manusia, anjing padang rumput, tikus, dan tupai - yang dapat terinfeksi virus ini.

    Namun, mereka tidak dianggap sebagai reservoir, sumber alami virus. Para ilmuwan masih berusaha mengidentifikasi reservoir monkeypox dan mengapa penyakit yang jarang terlihat selama beberapa dekade ini tampaknya menjadi lebih umum.

    Simak kabar terbaru tentang virus cacar monyet atau monkeypox hanya di kanal Tekno Tempo.co

    REUTERS | STATNEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.