NASA Butuh Tambahan Dana Rp 22 T untuk Kirim Manusia ke Bulan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Astronot Neil Armstrong (kanan) berjalan di permukaan bulan meninggalkan jejak kaki dan mengambil serta menyimpan debu bulan dan beberapa bebatuan kecil di dalam tas The Apollo 11 Contingency Lunar Sample Return Bag, pada 20 Juli 1969. AP Photo

    Astronot Neil Armstrong (kanan) berjalan di permukaan bulan meninggalkan jejak kaki dan mengambil serta menyimpan debu bulan dan beberapa bebatuan kecil di dalam tas The Apollo 11 Contingency Lunar Sample Return Bag, pada 20 Juli 1969. AP Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga antariksa Amerika Serikat NASA membutuhkan tambahan dana US$ 1,6 miliar (setara Rp 22,4 triliun) tahun anggaran 2020 agar tetap berada di jalur untuk misi manusia kembali ke Bulan pada 2024.

    Baca juga: NASA Ingin Kirim Astronot ke Kutub Selatan Bulan yang Misterius

    Jumlah tersebut merupakan tambahan dari anggaran US$ 21 miliar yang diminta Presiden Donald Trump kepada Kongres pada Maret lalu. Administrator NASA Jim Bridenstine mengatakan amandemen anggaran adalah uang muka pada apa yang akan dibutuhkan di tahun-tahun mendatang untuk mendanai program tersebut.

    "Di tahun-tahun mendatang, kita akan membutuhkan dana tambahan," kata Bridenstine, seperti dikutip laman Wired, Selasa, 14 Mei 2019. 

    Sumber di NASA mengatakan bahwa mereka memperkirakan  perlu anggaran sebanyak US$ 6 miliar hingga US$ 8 miliar per tahun untuk mengirim manusia ke Bulan pada tahun 2024.

    Dana ini akan dibutuhkan untuk merancang dan membangun pendarat Bulan dan roket Space Launch System, sehingga dapat melakukan tiga peluncuran, juga untuk rancang pakaian antariksa baru, buat elemen Lunar Gateway, dan untuk program terkait.

    Rencana revisi dari NASA menyerukan untuk meluncurkan komponen-komponen Gateway Lunar yang kecil, seperti stasiun ruang angkasa pada roket komersial tahun 2024. Komponen-komponen itu mencakup modul daya dorong dan modul habitat kecil.

    Roket pribadi akan menggelar elemen-elemen pendarat di Gateway. Akhirnya, pada 2024, roket Sistem Peluncuran Antariksa akan menerbangkan Orion yang diawaki ke pos Bulan. 

    "Ini membutuhkan segala yang ditawarkan Amerika untuk mencapai negara bagian terakhir," kata Bridenstine tentang rencana ini yang menggunakan roket SLS besar pemerintah dan penguat komersial.

    Namun, beberapa pejabat kedirgantaraan mempertanyakan pendekatan ini, yang sejauh ini gagal mendapatkan dukungan luas di Kongres. "Saya khawatir bahwa, tanpa dukungan kongres yang tepat, amandemen anggaran ini, paling banter, merupakan pemborosan waktu yang besar dan, paling buruk, mendorong jadwal politik berisiko yang dapat membuat NASA kembali selama bertahun-tahun," kata Phil Larson, yang bekerja pada kebijakan luar angkasa untuk Gedung Putih pada pemerintahan Obama.

    Menurut Larson, apa yang dibutuhkan sebagai gantinya adalah cara-cara yang lebih inovatif untuk melakukan bisnis dengan US$ 20 miliar lebih pembayar pajak yang diberikan kepada NASA setiap tahun. "Kami tahu ini pada 2009. Dan sekarang telah terbukti dalam administrasi dan Kongres ini," tutur Larson 

    WIRED | NASA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mohamed Salah dan Para Pemain Bola yang Tetap Berpuasa Ramadan

    Saat menjalankan profesi yang menguras tenaga, Mohamed Salah dan sejumlah pemain bola yang berlaga di liga-liga eropa tetap menjalankan puasa Ramadan.