Jejak Kaki 5 Orang Merangkak Zaman Batu Ditemukan di Gua Italia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jejak Kaki 5 Orang Merangkak Zaman Batu Ditemukan di Gua Italia. Kredit: Marco Avanzini

    Jejak Kaki 5 Orang Merangkak Zaman Batu Ditemukan di Gua Italia. Kredit: Marco Avanzini

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekitar 14.000 tahun yang lalu, pada Zaman Batu akhir, sekelompok lima orang bertelanjang kaki, terdiri dari dua orang dewasa, satu praremaja dan dua anak-anak, berjalan bahkan merangkak melalui lorong gelap di sebuah gua.

    Hal itu ditemukan dan dijelaskan dalam sebuah studi baru yang menganalisis jejak tangan dan kaki yang ditinggalkan orang tersebut.

    Baca: TERUNGKAP, Pulau Penyihir dari Zaman Batu

    Untuk menerangi jalan mereka, mereka kemungkinan membakar bundel pinus, yang juga ditemukan oleh para arkeolog di gua, yang dikenal sebagai Grotta della Bàsura, di Italia utara, demikian dilaporkan laman livescience, Rabu, 15 Mei 2019.

    "Langit gua sangat rendah, sehingga penjelajah kuno dipaksa merangkak, yang meninggalkan bukti pertama jejak kaki manusia yang tersisa selama merangkak, yaitu dalam posisi berjalan jongkok," kata penulis utama studi Marco Romano, seorang peneliti postdoctoral di Evolutionary Studies Institute di University of the Witwatersrand, Afrika Selatan.

    Peneliti telah mengetahui tentang keberadaan manusia purba di Grotta della Basura sejak 1950-an. Namun, analisis baru ini adalah tampilan teknologi tinggi pertama di jalur khusus ini, di mana peneliti menggunakan pemindaian laser, analisis sedimen, geokimia, arkeobotani dan pemodelan 3D untuk mempelajari cetakan.

    Ada begitu banyak cetakan - seluruhnya 180 - sehingga para peneliti dapat mengumpulkan apa yang terjadi hari itu selama Paleolitik atas (juga dikenal sebagai Zaman Batu akhir). Menurut berbagai ukuran jejak kaki, tampaknya ada lima orang: seorang anak berusia 3 tahun, 6 tahun, seorang remaja (usia 8 hingga 11 tahun) dan dua orang dewasa.

    Kelompok ini bertelanjang kaki dan tampaknya tidak mengenakan pakaian apa pun (setidaknya tidak meninggalkan jejak di gua). Setelah berjalan hampir 500 kaki (150 meter) ke dalam gua, rombongan tiba di Corridoio delle Impronte (koridor jejak kaki).

    "(Mereka) berjalan sangat dekat dengan dinding sisi gua. Pendekatan yang lebih aman juga digunakan oleh hewan lain (misalnya, anjing dan beruang) ketika bergerak di lingkungan yang kurang terang dan tidak dikenal," ujar Romano.

    Tak lama kemudian, atap gua turun hingga di bawah 31 inci (80 sentimeter), memaksa para petualang merangkak. "Menempatkan tangan dan lutut mereka di atas tanah liat," kata Romano.

    Para penjelajah kemudian melewati hambatan stalagmit; melintasi sebuah kolam kecil, meninggalkan jejak yang dalam di tanah yang tergenang air; memanjat lereng kecil di luar Cimitero degli Orsi (kuburan beruang), dan akhirnya tiba di ruang terminal Sala dei Misteri (ruang misteri), di mana mereka berhenti.

    "Begitu berada di ruangan itu, remaja dan anak-anak mulai mengumpulkan tanah liat dari lantai dan mengoleskannya pada stalagmit dengan tingkat yang berbeda sesuai ketinggian," kata Romano. "Obor kelompok meninggalkan beberapa jejak arang di dinding. Lalu mereka meninggalkan gua."

    Studi baru yang diterbitkan dalam jurnal eLife adalah karya yang disajikan dengan indah, menurut Matthew Bennett, seorang profesor ilmu lingkungan dan geografis di Universitas Bournemouth di Inggris, yang tidak terlibat dalam penelitian. "Ini adalah contoh kecanggihan, sekarang kita dapat merekam cetakan, apakah itu manusia atau hewan."

    Namun, mengingat para peneliti sudah tahu bahwa manusia purba tinggal di daerah itu dan menggunakan gua, temuan itu tidak menambah banyak pemahaman ilmiah tentang orang-orang Zaman Batu. "Ini adalah sekelompok orang yang menjelajahi gua, yang keren, tapi kami tahu itu," kata Bennett.

    Simak artikel menarik lainnya tentang penemuan jejak kaki kuno pada zaman batu hanya di kanal Tekno Tempo.co

    LIVESCIENCE | ELIFE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?