Ajak Ibu-Ibu Lawan Hoax, Rudiantara: Jangan Jari Dahului Pikiran

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menggunakan ponsel sambil berjalan. bbc.com

    Ilustrasi menggunakan ponsel sambil berjalan. bbc.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara mengajak masyarakat khususnya para ibu rumah tangga di lingkungan Masjid Al Amin, Radio Dalam untuk membantu memerangi berita tidak benar atau hoax.

    Baca juga: Dianggap Sebar Hoax dan Hasutan untuk 22 Mei, Seorang Pilot Ditangkap

    Dalam sambutannya pada acara "Prisma Fair 19TH", Rudiantara membagikan tiga buah ponsel kepada para pengunjung acara tersebut. Namun dia memberikan syarat khusus untuk penerimanya.

    "Syaratnya, gunakan ponsel dengan baik. Jangan jari kita lebih cepat dari pikiran kita, apalagi zaman sekarang. Kalau terima info, ada yang kirim berita, tulisan, foto atau video, hati-hati, kita bisa rugi dua kali," kata Rudiantara di Masjid Al Amin, Jakarta, Sabtu, 18 Meri 2019.

    Rudiantara pun menjelaskan bahwa saat menerima berita tidak benar melalui pesan singkat seperti WhatsApp, masyarakat akan rugi dua kali, khususnya dari segi pulsa dan paket data.

    "Sekarang zamannya pakai WhatsApp. Itu yang nerima foto sama video, juga kena potongan bayar (kuota data). Bayangkan kalau kita terima hoax yang isinya memprovokasi terus ada tulisan di bawahnya 'Ayo viralkan!'," ujar Rudiantara.

    Dia menambahkan, "Kalau ibu ngelakuin itu, udah isinya enggak benar, ibu juga harus bayar. Pulsa kita kesedot. Tapi bukan berarti kita tidak perlu menggunakan ponsel tapi gunakanlah dengan bijak."

    Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, Rudiantara mengimbau agar di masa Ramadhan ini alangkah baiknya untuk berhenti menyebarkan hoax.

    "Konten hoax itu kan isinya bisa bersifat fitnah, ibu-ibu tahu kan fitnah? Fitnah itu dapat dosa. Ada juga yang bersifat ghibah, ghibah itu enggak dapat pahala. Walau beritanya benar tapi orang yang diomonginnya enggak mau disebut, itu namanya ghibah. Belum lagi kalau ada konten informasi yang isinya mengadu domba kita," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.