Meski Belanja Produk AS Rp 159 T, Huawei Tetap Masuk Daftar Hitam

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peluncuran Huawei Mate 20 di Kuala Lumpur. Kredit: Tempo/Karina

    Peluncuran Huawei Mate 20 di Kuala Lumpur. Kredit: Tempo/Karina

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan elektronik Cina Huawei menyatakan tindakan yang diambil Pemerintah Amerika Serikat telah merusak tatanan kolaborasi dan prinsip saling percaya dalam sistem rantai pasokan global.

    Baca juga: Google Vs Huawei: Tak Bisa Gunakan OS Android, Ini Langkah Huawei

    Kementerian Perdagangan AS telah memasukkan Huawei dan afiliasinya dalam Entity List yang bertujuan melarang Huawei membeli komponen dan suku cadang dari sejumlah perusahaan yang berbasis di AS tanpa lisensi dari pemerintah.

    "Huawei menentang keputusan yang dikeluarkan oleh Biro Industri dan Keamanan (BIS) Kementerian Perdagangan Amerika Serikat ," kata Huawei dalam pernyataan tertulis resmi yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu, 18 Mei 2019.

    Keputusan tersebut dinilai Huawei tidak menguntungkan bagi semua pihak dan berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap perusahaan AS yang berbisnis dengan Huawei, juga mempengaruhi puluhan ribu lapangan kerja di AS.

    Huawei akan mengambil langkah yang diperlukan guna mengatasi sikap AS. "Kami juga akan secara proaktif me-mitigasi dampak dari insiden ini," kata Huawei.

    Sejumlah media melaporkan bahwa Huawei pada 2018 menghabiskan 70 miliar dolar AS atau lebih dari Rp1.000 triliun untuk membeli komponen dan suku cadang dari 13.000 pemasok.

    Dari jumlah itu, sekitar 11 miliar dolar AS atau sekira Rp159,6 triliun dihabiskan untuk produk-produk dari puluhan perusahaan AS, termasuk chip komputer dari Qualcomm dan Broadcom, juga perangkat lunak Microsoft dan Android Google.

    Huawei sudah lama berada dalam pusaran isu perang dagang antara AS dan Cina. Tuduhan klasik kembali dilayangkan AS kepada Huawei pada April 2019. Badan intelijen AS (CIA) menuduh Huawei Technologies didanai badan keamanan Cina.

    AS sebelumnya pernah mencurigai bahwa perangkat Huawei yang dipasok untuk beberapa perusahaan AS telah digunakan Cina sebagai alat memata-matai.

    Pada Desember 2018, seorang pemimpin Huawei sekaligus anak pendiri perusahaan ini, Meng Wanzhou, ditangkap di Kanada atas perintah AS karena kasus dugaan penipuan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?