UNS Memproduksi Cell Baterai Lithium untuk Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjajal sepeda motor listrik buatan dalam negeri, Gesits, setelah melakukan audiensi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 7 November 2018. Audiensi tersebut membahas persiapan produksi massal sepeda motor listrik Gesits. ANTARA

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjajal sepeda motor listrik buatan dalam negeri, Gesits, setelah melakukan audiensi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 7 November 2018. Audiensi tersebut membahas persiapan produksi massal sepeda motor listrik Gesits. ANTARA

    TEMPO.CO, Solo - Salah satu kendala produksi kendaraan listrik di Indonesia adalah mahalnya harga baterai yang dibutuhkan sebagai sumber daya. UNS telah mampu memproduksi baterai, tapi bahan bakunya masih harus didatangkan dari luar negeri.

    Baca juga: Mahasiswi UNS Bikin PERFECT, Aplikasi Pengukur Kematangan Buah

    "Saat ini kami telah mampu memproduksi seribu cell baterai lithium per hari," kata Ketua Tim Pengembangan Baterai Lithium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Hari Purwanto, Jumat 31 Mei 2019.

    Baterai produksinya sudah digunakan oleh berbagai mitra, termasuk motor Gesits yang diproduksi oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

    Hanya saja, dia mengakui bahwa baterai yang dibuatnya masih cukup mahal. "Satu cell-nya seharga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu," katanya. Padahal, satu unit motor listrik membutuhkan hingga 300 cell baterai.

    Tingginya harga baterai disebabkan sebagian besar bahan bakunya masih harus impor. "Hingga kini belum ada produsen dalam negeri yang membuat bahan bakunya," katanya. Padahal, Indonesia memiliki tambang material untuk membuat bahan baku baterai yaitu nikel.

    "Mulai tahun depan kami akan memproduksi langsung bahan baku untuk baterai lithium," katanya. Nikel yang menjadi bahan baku utama akan didatangkan dari Morowali. "Selama ini nikel lebih banyak digunakan untuk stainless," katanya.

    Dia yakin, bahan baku yang diproduksi sendiri akan membuat ongkos produksi pembuatan baterai bisa ditekan. "Harga jualnya bisa kami turunkan hingga menjadi Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per cell," katanya.

    Bahan baku yang akan dibuat bisa digunakan untuk memproduksi baterai lithium berbagai tipe, yaitu Lithium Ferum Phospat (LFP), Lithium Nickel Cobalt Aluminium Oxide (NCA) dan Nickel-Manganese Cobalt (NMC). Masing-masing memiliki kelebihan yang berbeda.

    Berita lain tentang UNS dan mobil listrik bisa Anda ikuti di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.