Robot Astrobee NASA Terbang Perdana di Luar Angkasa

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • NASA Astrobee. Kredit: NASA

    NASA Astrobee. Kredit: NASA

    TEMPO.CO, Jakarta - Robot kubus Astrobee milik lembaga antariksa Amerika Serikat NASA akhirnya terbang ke luar angkasa. Lembaga itu telah mengkonfirmasi bahwa salah satu bot, Bumble, terbang sendiri untuk pertama kalinya di Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 14 Juni.

    Baca: Lab NASA Bisa Diretas dengan Komputer Sederhana Raspberry Pi

    Mengutip laman Engadget, Ahad, 23 Juni 2019, untuk sementara perjalanan robot tersebut hanya melibatkan gerakan dasar seperti terbang maju dan berputar, yang menjadi bukti bahwa mesin bisa bekerja di lingkungan gaya berat mikro yang diinginkan.

    Tes di masa depan akan membuat Bumble melakukan gerakan semakin kompleks untuk menunjukkan bahwa robot itu siap untuk digunakan. Ada robot lain (Honey) sudah hadir di ISS, sementara robot ketiga (Queen) diperkirakan akan diluncurkan pada Juli.

    NASA menginginkan robot seperti seri Astrobee berfungsi sebagai penjaga. Mereka akan melakukan beberapa pemeliharaan dan bantuan sehingga para astronot dapat fokus pada misi mereka dibandingkan tugas-tugas yang monoton.

    Mereka bisa sangat berharga untuk misi jangka panjang ke Bulan dan Mars, di mana personel dan waktu akan sangat terbatas.

    Astrobee merupakan sistem robot terbang bebas NASA yang baru, yang akan membantu para astronot mengurangi waktu yang mereka habiskan untuk tugas-tugas rutin, demikian dilaporkan India today.

    Bekerja secara otonom atau melalui kendali jarak jauh oleh para astronot, robot NASA ini dirancang untuk menyelesaikan tugas seperti mengambil inventaris, dokumentasi eksperimen yang dilakukan astronot dengan kamera bawaan, atau bekerja bersama untuk memindahkan muatan ke seluruh dunia.

    ENGADGET | INDIA TODAY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.