Studi: Es Greenland Bisa Habis Karena Perubahan Iklim

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melihat bongkahan es raksasa yang bergerak melewati perairan Ferryland Newfoundland, Kanada, 16 April 2017. Perairan yang disebut Iceberg Alley ini menjadi tempat perlintasan pecahan gletser di Greenland pada setiap awal musim panas. REUTERS/Jody Martin

    Warga melihat bongkahan es raksasa yang bergerak melewati perairan Ferryland Newfoundland, Kanada, 16 April 2017. Perairan yang disebut Iceberg Alley ini menjadi tempat perlintasan pecahan gletser di Greenland pada setiap awal musim panas. REUTERS/Jody Martin

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi yang diterbitkan di Science Advances baru-baru ini membagikan beberapa data mengejutkan tentang lapisan es Greenland dan tingkat pencairannya karena perubahan iklim, sebagaimana dilaporkan laman news3lv, Ahad, 23 Juni 2019.

    Baca: Waspada, Studi Baru: Es Greenland Mencair 6 Kali Lebih Cepat

    Menurut lembaga antariksa Amerika Serikat atau NASA, penelitian itu menunjukkan bahwa dalam 200 tahun ke depan laju leleh dapat berkontribusi 19 hingga 63 inci untuk kenaikan permukaan laut global.

    Angka tersebut kira-kira 80 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, yang menyatakan bahwa es Greenland dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut hanya 35 inci.

    Para ilmuwan memproyeksikan bahwa Greenland akan sangat mungkin menjadi bebas es dalam satu milenium tanpa pengurangan substansial dalam emisi gas rumah kaca. Jika ini terjadi, permukaan laut bisa naik di seluruh dunia sekitar 23 kaki atau 7 meter.

    "Jika kita melanjutkan aktivitas seperti biasa, Greenland akan mencair. Apa yang kita lakukan saat ini dalam hal emisi, dalam waktu dekat akan memiliki dampak jangka panjang yang besar pada lapisan es Greenland, dan dengan perluasan, jika meleleh, ke permukaan laut dan masyarakat manusia," kata pimpinan penelitian Andy Aschwanden, profesor peneliti di Institut Geofisika Universitas Fairbanks Alaska.

    Tim peneliti sampai pada kesimpulan dengan membuat studi pemodelan dengan data dari kampanye Operation IceBridgeNASA. Mereka menjalankan model lapisan es 500 kali hingga tahun 3000 untuk masing-masing dari tiga skenario iklim.

    Setiap skenario didasarkan pada variabel tanah, es, laut dan atmosfer, yang bergantung pada jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer pada tahun-tahun mendatang.

    Sir Robert Watson, mantan ilmuwan iklim NASA dan Inggris, mengatakan kepada Associated Press pada November 2018 bahwa ketika para ilmuwan melewatkan tanda secara historis pada prediksi tentang iklim, mereka hampir selalu meremehkan masalah.

    Simak artikel lainnya tentang Greenland dan perubahan iklim di kanal Tekno Tempo.co.

    SCIENCE ADVANCES | NEWS3LV | ASSOCIADE PRESS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kajian Ibu Kota Baru, Diklaim Memperkuat Kawasan Timur Indonesia

    Pemindahan ibu kota ke luar Jawa diklaim akan memperkuat kegiatan nasional dan kawasan Indonesia timur. Begini kajian ibu kajian ibu kota baru.