Polusi Udara Jakarta Terburuk, Dinas: Tidak Seluruh Wilayah

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat yang tergabung dalam gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (IBUKOTA) melakukan aksi membentangkan spanduk bertuliskan '#BersihkanUdaraku' pada aksi yang digelar di Bundaran HI, Jakarta, Rabu 5 Desember 2018. Aksi tersebut menuntut aksi nyata pemerintah untuk membuat strategi dan rencana aksi yang jelas secara hukum guna membenahi darurat polusi di Ibukota. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Masyarakat yang tergabung dalam gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (IBUKOTA) melakukan aksi membentangkan spanduk bertuliskan '#BersihkanUdaraku' pada aksi yang digelar di Bundaran HI, Jakarta, Rabu 5 Desember 2018. Aksi tersebut menuntut aksi nyata pemerintah untuk membuat strategi dan rencana aksi yang jelas secara hukum guna membenahi darurat polusi di Ibukota. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Situs penyedia peta polusi udara AirVisual mencatat bahwa DKI Jakarta merupakan kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia. Laman AirVisual menyebutkan bahwa Air Quality Index-nya (AQI) memiliki nilai 208 per pagi ini, Rabu, 26 Juni 2019 pukul 08.33 yang artinya udara di Jakarta sangat tidak sehat.

    Baca: Riset Polusi Udara Jakarta: Jogging Lebih Baik Jam 13-15

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menanggapi hal tersebut. Menurut Kepala Laboratorium DLH Diah Ratna Ambarwati, AirVisual seharusnya tidak bisa men-judge bahwa seluruh wilayah Jakarta udaranya buruk.

    "Kalau per hari ini AQI-nya 208, berarti sudah turun ya, karena yang 25 Juni kemarin AirVisual menyatakan jam 8 pagi dengan nilai 240. Itu lokasi AirVisual dalam pengukuran di mana, kita kurang tahu, kita membandingkan dengan stasiun pemantau kualitas udara yang ada di DKI Jakarta nih," kata Diah kepada Tempo melalui sambungan telepon, Rabu, 26 Juni 2019.

    DKI Jakarta, kata Diah, memiliki lima stasiun pemantau kualitas udara, yaitu di Bundaran HI (DKI 1), Kelapa Gading (DKI 2), Jagakarsa (DKI 3), Lubang Buaya (DKI 4), dan Kebun Jeruk (DKI 5).

    AirVisual, Diah melanjutkan, menggunakan partikulat PM2.5, sementara PM2.5 belum ditetapkan kualitas udaranya di Indonesia, yang baru ada sampai PM10 di dalam Permen LH Tahun 1997.

    Namun, konsentrasi PM2.5 sudah ditetapkan di Indonesia sebesar 65 mikrogram per meter kubik, artinya Indonesia hanya melihat konsentrasinya saja.

    "Kami belum bisa membuatkan indeksnya, tapi PM10 sudah. Nah kalau berdasarkan data dari kemarin maupun hari ini, itu untuk PM10 semua stasiun menyatakan masih sedang. Kalau kita namanya indeks standar pencemaran udara, itu baru memakai PM10," kata Diah.

    "Dan AirVisual sepertinya membandingkan dengan baku mutunya Amerika, yang konsentrasinya PM2.5 itu adalah sebesar 40 mikrogram per meter kubik. Jadi itu dibuat seperti itu."

    Pada pagi kemarin, sekitar pukul 08.00, nama Jakarta muncul dalam urutan pertama kota dengan tingkat polusi tertinggi menurut AirVisual. Setelah Jakarta, ada kota Lahore di Pakistan, Hanoi di Vietnam, Dubai di Uni Emirat Arab, serta Wuhan di China yang masuk lima besar kota dengan tingkat polusi udara tertinggi dunia.

    Artinya, Dia menjelaskan jika pada pukul 08.33 nilai AQI-nya 208 yang berarti sangat sangat tidak sehat, kemungkinan konsentrasinya sekitar 170-an, konsentrasi pada waktu itu dan di lokasi tertentu.

    "Jadi artinya tidak bisa dikatakan di-judge bahwa seluruh DKI itu kondisinya sama. Karena AirVisual itu mungkin hanya di satu titik atau lokasi diambilnya, sedangkan Jakarta kan luas," tutur Diah. "Seharusnya tidak bisa menilai dan mengklaim mengatakan bahwa kualitas seluruh DKI itu buruk, masih ada wilayah DKI Jakarta yang bagus udaranya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.