Suhu Lebih Dingin di Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandu wisata di Kota Bandung, Neng Mulyati berprofesi sejak dua tahun lalu melayani para turis dengan bahasa Indonesia. (TEMPO/Anwar Siswadi)

    Pemandu wisata di Kota Bandung, Neng Mulyati berprofesi sejak dua tahun lalu melayani para turis dengan bahasa Indonesia. (TEMPO/Anwar Siswadi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan wajar fenomena suhu lebih dingin mencapai 16 derajat di wilayah Priangan Timur, khususnya Garut, Tasikmalaya, Ciamis, ketika malam. 
     
    Juru bicara BMKG, Akhmad Taufan Maulana menjelaskan bahwa fenomena itu rutin terjadi pada musim kemarau. "Kalau musim kemarau sudah lewat, suhu akan kembali normal," ujar Akhmad melalui keterangan tertulis, Kamis, 18 Juli 2019.
     
    Ia menjelaskan minimnya awan saat musim kemarau menjadi faktor penyebab suhu  terasa lebih dingin. Saat ini musim kemarau, menurut dia kalau lagi kemarau itu awan-awan jarang artinya cukup terang dan tidak ada tutupan awan. "Sehingga matahari menyoroti kita lebih cepat."
     
    Menurut Akhmad, ketika musim kemarau itu di siang hari terasa panas, namun demikian pada malam hari dari bumi sendiri memberikan energi ke udara lebih cepat juga.  
    "Sehingga pada malam hari, akan lebih dingin ketika malam hari," ucap dia. 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.