Mahasiwa UB Teliti Bakteri Lawan Jamur Cabai, Biar Harga Tak Naik

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa UB yang meneliti bakteri penghambat jamur cabai rawit, Cindy Diah Ayu Fitriana, Nava Karina, dan Achmad Roekhan, Agustus 2019. (Humas Universitas Brawijaya)

    Mahasiswa UB yang meneliti bakteri penghambat jamur cabai rawit, Cindy Diah Ayu Fitriana, Nava Karina, dan Achmad Roekhan, Agustus 2019. (Humas Universitas Brawijaya)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, mengembangkan bakteri yang mampu menghambat patogen Colletotrichum capsici sekaligus mengatasi jamur pada cabai rawit.

    Ketiga mahasiswa FP UB tersebut, adalah Cindy Diah Ayu Fitriana, Nava Karina, dan Achmad Roekhan. Pengembangan bakteri yang dilakukan ketiga mahasiswa itu di bawah bimbingan dosen Luqman Qurata Aini.

    Mereka melakukan pengembangan bakteri kitinolotik di UB Forest yang memiliki kemampuan cepat dan tepat dalam menghambat perkembangbiakan jamur patogen Colletotrichum capsici penyebab antraknosa.

    "Bakteri kitinolitik yang ada di UB Forest lebih aktif dibanding dari perairan, sehingga lebih aplikatif apabila diimplementasikan di bidang pertanian," kata Achmad Roekhan di Malang, Jumat, 16 Agustus 2019.

    Umumnya, kata Achmad Roekhan, bakteri kitinolitik itu ditemukan di perairan. Dari 78 bakteri yang ada di UB Forest, 76 di antaranya adalah bakteri kitinolitik.

    Pada tahun lalu, lanjutnya, cabai rawit menjadi komoditas hortikultura penyumbang inflasi sebesar 0,08 persen dari 3.2 persen inflasi nasional berdasar data Bank Indonesia 2018. Inflasi ini disebabkan karena banyaknya cabai yang terkena serangan penyakit antraknosa (patek) oleh jamur patogen Colletotrichum capsici.

    Penyakit antraknosa pada cabai rawit mampu menurunkan produksi sebesar 50-90 persen per hektare. Pengendalian penyakit oleh petani dengan fungisida cenderung belum efektif dan menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan.

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim, kata Achmad, bakteri kitinolitik UB Forest memiliki kemampuan menghambat jamur Colletotrichum capsici penyebab antraknosa dengan persentase penghambatan hingga 100 persen.

    Keunggulan bakteri kitinolitik dalam mengatasi penyakit antraknosa lebih efektif dibandingkan fungisida, karena bakteri kitinolitik memiliki kemampuan yang cepat dalam melisis dinding sel patogen yang komponen utamanya berupa kitin sebesar 22-40 persen.

    Oleh karena itu, katanya, pemanfaatan bakteri kitinolitik UB Forest sebagai mikroba antagonis yang berperan sebagai green technology berbasis agen  hayati perlu dikembangkan.

    "Harapan kami bakteri jamur ini dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan antraknosa serta mendukung implementasi pertanian yang berkelanjutan," tuturnya.

    Berita lain tentang penelitian mahasiswa Universitas Brawijaya dan cabai, bisa Anda simak di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.