Studi: Akibat Perubahan Iklim Kadal Terancam Punah Lebih Cepat

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kadal kebun (Eutropis multifasciata). (youtube.com)

    Kadal kebun (Eutropis multifasciata). (youtube.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian terbaru mengungkap bahwa kadal yang berkembang biak dengan beranak, lebih terancam kepunahan akibat perubahan iklim. Studi yang melibatkan Nottingham Trent University dan University of Lincoln, menunjukkan bahwa kadal menghadapi risiko tinggi kepunahan dalam 60 tahun ke depan, didorong terutama oleh kenaikan suhu.

    Peneliti menyelidiki bagaimana strategi reproduksi kadal modern yang beranak (vivipar) atau bertelur (ovipar) di masa lalu dapat mempengaruhi peluang untuk bertahan hidup dalam perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

    "Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia memaksa dunia modern untuk menghadapi salah satu periode kepunahan spesies berskala global paling parah sejak kehidupan dimulai," ujar seorang ahli biosains di Nottingham Trent University Daniel Pincheira-Donoso, dikutip Phys, baru-baru ini.

    Sebagai bagian dari penelitian, tim berpendapat bahwa mereka telah mengkonfirmasi teori 'cul-de-sac' yang muncul, dan menunjukkan bahwa kadal yang hidup di iklim dingin, seperti dataran tinggi, paling terancam kepunahan.

    Pincheira-Donoso mengembangkan teori tersebut, dan menyarankan bahwa setelah kolonisasi lingkungan yang keras itu, para induk kadal mempertahankan telur dalam tubuh mereka untuk bertindak sebagai inkubator. Dan itu memberikan embrio dengan kondisi suhu dan oksigen yang stabil.

    "Hasil kami menyoroti tingkat krisis kepunahan yang sedang dihadapi oleh keanekaragaman hayati modern. Pada 2080, lebih dari setengah dari tanah dingin saat ini di daerah yang kami selidiki di Amerika Selatan akan menjadi hangat, menyebabkan kepunahan spesies penghuni saat ini," kata Pincheira-Donoso.

    Diperkirakan, seiring waktu, retensi sel telur berevolusi menjadi persalinan. Reproduksi dengan cara melahirkan tidak terlalu efektif di lingkungan yang panas, dan begitu reptil berkembang dengan cara ini, mereka tetap terperangkap di daerah dingin.

    Ketika pemanasan iklim dengan cepat berkembang ke arah ketinggian dan garis lintang yang lebih tinggi, iklim dingin yang cocok di mana spesies bersalin hidup akan didorong menuju puncak gunung. Hingga ujung-ujung benua sampai kadal kehabisan ruang dan akhirnya musnah.

    "Risiko kepunahan diketahui meningkat sebagai akibat dari perubahan iklim yang cepat dan sifat spesies yang sensitif terhadap lingkungan yang gagal beradaptasi dengan perubahan itu," tutur Pincheira-Donoso. 

    Studi mengamati tiga kelompok kadal yang beragam dari Amerika Selatan: satu yang hanya memiliki spesies vivipar, satu dengan hanya spesies yang ovipar, dan satu yang telah mengembangkan kedua bentuk reproduksi.

    Untuk menyelidiki apakah perubahan iklim yang sedang berlangsung menyebabkan kepunahan seperti  diprediksi oleh teori. Para peneliti menggunakan pemodelan komputasi perubahan iklim saat ini, dikombinasikan dengan data nyata tentang kondisi di mana kadal hidup.

    "Pekerjaan ini memberi kita peluang untuk mengidentifikasi area spesifik yang membutuhkan perlindungan lebih mendesak, seperti ketinggian gunung di mana risiko kepunahan akan terkonsentrasi," ujar Pincheira-Donoso. "Fenomena ini akan berlaku untuk reptil lain, seperti ular, di mana saja di dunia."

    Tim juga menemukan bahwa spesies yang hidup di dataran rendah  akan berpindah ke puncak gunung dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari pada spesies yang bertelur.

    Berita lain tentang perubahan iklim, bisa Anda simak di Tempo.co.

    PHYS | SCIENTIFIC REPORTS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.