FMIPA UI Gelar Konferensi Internasional Sains dan Geografi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akademisi dari Indonesia, Malaysia, Jepang dan Inggris hadir pada Konferensi Internasional Sains dan Geografi Terapan (ICOSAG) yang diselenggarakan oleh FMIPA UI di Kampus UI Depok /Caecilia Eersta

    Akademisi dari Indonesia, Malaysia, Jepang dan Inggris hadir pada Konferensi Internasional Sains dan Geografi Terapan (ICOSAG) yang diselenggarakan oleh FMIPA UI di Kampus UI Depok /Caecilia Eersta

    TEMPO.CO, Jakarta - Departemen Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) mengadakan Konferensi Internasional Sains dan Geografi Terapan (ICoSAG) di Kampus UI Depok, 24 Agustus 2019.

    Konferensi bertema “Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Lingkungan untuk Pembangunan Berkelanjutan” itu mengakomodasi studi pada bidang geografi dan penerapan ilmu pengetahuan.

    Tidak hanya dihadiri oleh peneliti dari Indonesia, acara FMIPA UI ini juga dihadiri oleh peneliti dari Jepang, Malaysia, dan Inggris.

    Pada acara kali ini, terdapat empat tema utama yang dibahas, yakni aplikasi model spasial, terapan geografi, geografi manusia dan pembangunan daerah, serta pendidikan geografi.

    Aplikasi model spasial memiliki fokus pada pemodelan pengurangan risiko bencana dan tata ruang untuk pertanian, pertanian, pesisir serta pulau terpencil.

    Sedangkan terapan geografi berfokus pada hidrologi dan sumber daya air, meteorologi dan klimatologi, serta lansekap dinamis. “Perubahan iklim mempengaruhi perubahan pola sungai,” ucap Trevor Hoey dari University of Glasgow.

    Gejala kekeringan dan pola curah hujan yang tidak menentu menurunkan kapasitas permukaan air di sungai, danau, dan aliran air, sehingga menyebabkan air sedikit tercemar. Temperatur yang lebih tinggi dapat mengurangi kadar oksigen sehingga dapat membunuh ikan dan merusak ekosistem secara signifikan.

    Menurut Trevor, sejarah pola sungai pada masa lalu dapat membantu peneliti dalam mengobservasi perubahan bentuk sungai dari tahun ke tahun. Berkat sistem teknologi yang semakin canggih, penelitian semakin mudah untuk dilakukan demi kehidupan berkelanjutan.

    Meskipun begitu, ia juga berharap ke depannya terdapat solusi bagi proses penelitian yang lebih cepat agar pengupayaan proses mitigasi dilakukan secara dini.

    Sementara, geografi manusia dan pembangunan daerah memiliki fokus pada pengembangan modal sosial, pemberdayaan identitas dan masyarakat budaya, transformasi ekonomi dan sosial serta pembangunan daerah.

    Kemudian, pendidikan geografi membicarakan tentang studi geografi. “Lanskap selalu menjadi permasalahan, seperti kemiskinan dan juga permasalahan lahan,” ucap Jatna Supritna, Ketua Pusat Penelitian untuk Perubahan Iklim, Universitas Indonesia.

    Menurutnya, harus ada keseimbangan antara produksi dan proteksi jangka panjang demi menjaga stabilitas biodiversitas alam, sehingga terjadi kesejahteraan dalam bidang agrikultur bagi manusia dan juga makhluk hidup lainnya di hutan.

    Hewan dan tumbuhan memiliki peran yang besar bagi regenerasi hutan. Jika tidak ada hewan di hutan maka akan terjadi kekurangan karbon dioksida yang dibutuhkan oleh tumbuhan dalam berfotosintesis, dan jika tumbuhan tidak dapat berfotosintesis maka mereka akan mati sehingga pasokan oksigen semakin berkurang.

    Studi ilmiah sangat diperlukan dalam proses pengembangan penelitian yang dapat digunakan sebagai sistem perencanaan dan pemanfaatan fitur geografis bumi.

    Dinamika penggunaan sumber daya alam dan sumber daya manusia cenderung tidak memperhatikan kemampuan ekosistem yang dapat berdampak pada pengurangan daya dukung, ketahanan dan keberlanjutan pembangunan.

    CAECILIA EERSTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.