Ilmuwan Ungkap Misteri Penyebab Gempa dan Tsunami Palu

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berdoa di tempat hilangnya anggota keluarga mereka di lokasi bekas terdampak likuefaksi di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 5 Juni 2019. Usai melaksanakan salat Idul Fitri, umat muslim korban bencana mendatangi lokasi permukiman penduduk yang hancur akibat gempa dan likuefaksi tersebut untuk mengenang dan mendoakan keluarga mereka yang meninggal dunia atau dinyatakan hilang dalam peristiwa tersebut. ANTARA

    Warga berdoa di tempat hilangnya anggota keluarga mereka di lokasi bekas terdampak likuefaksi di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 5 Juni 2019. Usai melaksanakan salat Idul Fitri, umat muslim korban bencana mendatangi lokasi permukiman penduduk yang hancur akibat gempa dan likuefaksi tersebut untuk mengenang dan mendoakan keluarga mereka yang meninggal dunia atau dinyatakan hilang dalam peristiwa tersebut. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Menggunakan superkomputer yang dioperasikan oleh Leibniz Supercomputing Center (anggota Gauss Centre for Supercomputing), tim ahli geologi, geofisika, dan matematikawan internasional berhasil mengungkap misteri penyebab gempa dan tsunami Palu yang terjadi setahun lalu, sebagaimana dilaporkan eurekalert baru-baru ini.

    Gempa bumi dan tsunami Palu 2018 adalah peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,4 diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA. Peristiwa tersebut menjadi bencana alam paling mematikan di dunia pada tahun 2018.

    Tim itu menunjukkan bahwa pergerakan dasar laut yang disebabkan gempa bumi di bawah Teluk Palu dapat menghasilkan tsunami, yang berarti kontribusi tanah longsor tidak diperlukan untuk menjelaskan fitur-fitur utama tsunami Palu.

    Tim menyebut rekahan itu sangat cepat. Dalam model mereka, selip sebagian besar lateral, tetapi juga ke bawah sepanjang patahan, yang menghasilkan perubahan laut vertikal dari 0,8 meter menjadi 2,8 meter yang rata-rata 1,5 meter melintasi area yang diteliti. Yang penting untuk menghasilkan sumber tsunami ini adalah geometri sesar miring dan kombinasi galur lateral dan ekstensional.

    Para ilmuwan sampai pada kesimpulan ini menggunakan model gempa-tsunami berbasis fisika yang mutakhir. Model gempa, yang didasarkan pada fisika gempa, berbeda dari model gempa berbasis data konvensional.

    "Menemukan bahwa perpindahan gempa mungkin memainkan peran penting dalam menghasilkan tsunami Palu sama mengejutkannya dengan pergerakan yang sangat cepat selama gempa itu sendiri," kata Thomas Ulrich, mahasiswa PhD di Universitas Ludwig Maximilian Munich dan penulis utama makalah ini.

    "Kami berharap bahwa studi kami akan meluncurkan pandangan yang lebih dekat pada pengaturan tektonik dan fisika gempa yang berpotensi mendukung tsunami lokal dalam sistem patahan yang serupa di seluruh dunia," tambahnya.

    Tsunami Palu telah mengejutkan para ilmuwan karena telah menghancurkan komunitas di Sulawesi. Gempa itu terjadi di dekat batas lempeng aktif, di mana gempa bumi biasa terjadi. Anehnya, gempa bumi ini menyebabkan tsunami besar, meskipun terutama gerakan tanah secara horizontal. Tsunami skala besar biasanya disebabkan oleh gerakan vertikal.

    Para peneliti bingung dengan apa yang terjadi. Bagaimana air dipindahkan untuk menciptakan tsunami ini: oleh tanah longsor, patahan, atau keduanya? Data satelit dari  rekahan permukaan menunjukkan patahan yang relatif lurus dan mulus, tetapi tidak mencakup daerah lepas pantai, seperti Teluk Palu yang kritis.

    Para peneliti bertanya-tanya, apa bentuk sesar di bawah Teluk Palu dan apakah ini penting untuk menghasilkan tsunami? Gempa ini sangat cepat. Bisakah kecepatan rekahan memperbesar tsunami? Akhirnya pertanyaan tersebut berhasil terjawab. Pekerjaan tim ini diterbitkan dalam Pure and Applied Geophysics.

    EUREKALERT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.