Habitatnya Terbakar, Orangutan Masuk Kebun Warga

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • BKSDA Kalbar bersama Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan satu orangutan di kebun karet milik warga di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, 21 September 2019. (FOTO ANTARA/Istimewa)

    BKSDA Kalbar bersama Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan satu orangutan di kebun karet milik warga di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, 21 September 2019. (FOTO ANTARA/Istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Ketapang bersama Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan satu orangutan di kebun karet milik warga di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

    "Orangutan berjenis kelamin jantan berumur 7 tahun, yang diselamatkan Sabtu (21/9)," kata Manajer Lapangan IAR Indonesia, Argitoe Ranting dalam keterangan  kepada ANTARA di Pontianak, Senin, 23 September 2019.

    Ia menjelaskan, sebelumya, masyarakat kebun Kuala Satong serta tim patroli Orangutan Protecting Unit (OPU) dari IAR menemukan satu orangutan remaja yang berkeliaran di kebun warga yang selama ini memang sudah terjalin kerja sama dengan baik.

    "Karena hutan di sekitar kebun sudah terbakar semua, kita tidak ada alternatif lain sehingga orangutan itu harus ditangkap dan ditranslokasi ke hutan yang aman," katanya.

    Menurut dia, di daerah Kuala Satong, Ketapang, yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung, dulunya juga banyak hutan dan habitat orangutan. Tetapi akibat pembukaan lahan yang dikonversi menjadi sawit dan kebakaran hutan, habitat orangutan itu semakin mengecil.

    "Kebakaran habitat yang luas inilah yang mendorong orangutan masuk ke kebun warga dan menimbulkan konflik manusia-orangutan. Karena itulah, tindakan penyelamatan ini adalah opsi terakhir, untuk mencegah kerugian baik dari sisi manusia maupun satwa liar," katanya.

    Ia menambahkan, dalam menghadapi situasi itu, IAR Indonesia bersama BKSDA menurunkan tim penyelamat untuk mengevakuasi orangutan itu menggunakan senapan bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    "Ketika dibius, kondisi orangutan remaja ini cukup memprihatinkan, selain sangat kurus dan mengalami dehidrasi, tim penyelamat juga menemukan luka membusuk yang melingkar di kaki kanannya akibat lilitan tali jerat," katanya.

    Menurut dia, kasus penyelamatan itu sudah yang kedua kalinya mereka lakukan.

    Pada tahun 2012 pihaknya menyelamatkan satu orangutan yang terjerat (yang dibuat memang bukan untuk orangutan), lukanya sangat parah sehingga tangannya harus diamputasi.

    "Saat ini kondisi orangutan tersebut dalam penanganan tim medis IAR Indonesia, dilakukan perawatan dan pengobatan guna memastikan kondisi kesehatannya, ketika sudah pulih total akan dilepaskan kembali ke alam," katanya.

    Sementara itu, Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez mengatakan, kebakaran hutan di Kalimantan adalah satu bukti nyata tentang krisis mengenai perubahan iklim dan kepunahan massal di seluruh dunia.

    Dalam habitat orangutan yang terbakar, kata dia, ada jutaan jenis satwa dan tumbuhan yang tidak bisa diselamatkan. Orangutan pun juga banyak yang menjadi korban akibat kebakaran hutan.

    "Kita sedang dalam krisis sehingga semua negara-negara di seluruh dunia harus mengambil sikap dalam menghadapi masalah ini dan menemukan solusinya. Pemerintah dari seluruh dunia harus bergerak mulai dari sekarang sebelum semuanya terlambat untuk mengatasi masalah ini," katanya.

    Berita lain tentang orangutan dan karhutla, bisa Anda baca di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.