Perlunya Kesiapan Pelayanan Kesehatan Hadapi Era Industri 4.0

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diskusi Ngobrol Tempo, Get In Touch with Owlexa Healthcare di Balai Kartini, Selasa 24 September 2019.

    Diskusi Ngobrol Tempo, Get In Touch with Owlexa Healthcare di Balai Kartini, Selasa 24 September 2019.

    INFO BISNIS — Bekerja sama dengan PT Aplikanusa Lintasarta, Tempo kembali mengadakan Ngobrol@Tempo di Balai Kartini, Jakarta, Selasa, 24 September 2019. Bertajuk "Get in Touch with Owlexa Healthcare”, diskusi ini mengulas seputar pelayanan kesehatan bagi karyawan untuk menunjang daya saing perusahaan hingga kesiapan industri healthcare terhadap perkembangan teknologi 4.0.

    Masuknya era baru yang disebut sebagai revolusi industri 4.0 mendorong pemerintah untuk menggenjot pembangunan di berbagai sektor, tidak terkecuali sumber daya manusia, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan.

    Namun, kesehatan para pekerja tidak hanya bergantung pada usaha mereka menjaga kondisi fisik dan mentalnya, tetapi juga peran dari perusahaan. Hak para pekerja untuk memperoleh perlindungan dari perusahaannya terlampir dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.‌‌

    Ketua YLKI, Tulus Abadi, mengatakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) selama ini patut diapresiasi meskipun masih banyak kekurangan. Survei menyatakan 70 persen puas, hanya sedikit yang tak puas. JKN dirasa tak memuaskan karena sudah ada program sejenis di perusahaan yang lebih bagus, perusahaan juga banyak yang belum mendaftar JKN.

    Di lain sisi, perusahaan yang memiliki jaminan kesehatan pun harus mempermudah prosedur apabila karyawannya membutuhkan. Senior Manager Operation TPA Owlexa Healtcare, dr. Tri Rahayu memaparkan, di balik urusan klaim biaya kesehatan ada tiga proses penting, dimulai saat peserta datang ke rumah sakit, saat proses verifikasi klaim, dan proses akhir pembayaran ke rumah sakit.

    Menurutnya, ada lima tren teknologi kesehatan yang mengubah cara pandang di bidang kesehatan, yaitu big data, artificial inteligence, cloud, mobile health, dan wearable gadget. Jika data kesehatan terhubung pada sistem Owlexa, perusahaan dapat memberi saran kesehatan pada karyawan lewat data di sistem tersebut.

    “Teknologi yang digunakan Owlexa bisa membantu perusahaan dalam memroses itu semua. Biasanya karyawan bayar baru reimburse ke perusahaan, namun dengan kartu Owlexa, sejak datang ke rumah sakit hingga selesai proses klaim semua prosesnya bisa dilihat di mobile apps Owlexa, sehingga juga bisa membantu pengelolaan dana atau benefit yang didapat,” kata Tri.

    Diskusi Ngobrol Tempo, Get In Touch with Owlexa Healthcare di Balai Kartini, Selasa 24 September 2019.

    Dalam diskusi hadir pula penyiar Most Radio, Jerry Arvino, yang berbagi cerita inspiratif akan pentingnya kesehatan sebagai aset utama menunjang produktivitas. Ia pernah dalam kondisi kritis sembilan hari karena gagal pompa jantung, paru-paru penuh cairan, ginjal tak berfungsi hingga radang selaput otak dalam satu waktu. Hal ini terjadi karena kesibukan yang tinggi sehingga kurang istirahat.

    “Saat itu memang perusahaan punya asuransi, tapi pengurusan agak repot karena saya kan enggak sadar, enggak bisa ditanya-tanya. Adanya Owlexa Healtcare ini pasti bisa memfasilitasi untuk provide kita dan punya data record untuk tahu kondisi agar selalu terpantau,” ujar Jerry.

    Dari berbagai contoh nyata, digitalisasi pelayanan kesehatan memang sangat diperlukan. Cepatnya pertumbuhan teknologi dengan masuknya revolusi industri 4.0 membuahkan berbagai inovasi. Industri healthcare dituntut beradaptasi dengan pemanfaatan teknologi pendukung proses digitalisasi. Masalah administrasi seharusnya jangan sampai menghambat kecepatan pelayanan kesehatan.

    Menyikapi hal ini, Rico Mardiansyah, Kasubag Advokasi dan Humas, Ditjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyampaikan pihaknya saat ini terus berupaya menyusun berbagai regulasi yang mendukung digitalisasi industri healthcare.

    “Proses pembuatan regulasi tentang rekam medik, server, dan keamanan data rumah sakit sudah bergulir dari tahun 2017 namun sampai sekarang belum final. Saat ini sudah ada sekitar 68 aplikasi yang berhubungan dengan dunia kesehatan dan sejauh ini Kementerian Kesehatan belum pernah menerima aduan atau komplain terkait layanan aplikasi ini,” katanya, menjelaskan.

    Terkait kesiapan rumah sakit swasta dalam menghadapi industri 4.0, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Kota Bekasi, Irwan Heriyanto, berpendapat bahwa proses transformasi digital tak terkait dengan biaya, tetapi karena ada ketakutan mengenai keamanan data sehingga enggan untuk menggunakan teknologi informasi.

    Meskipun begitu, digitalisasi pelayanan kesehatan dapat mengurangi celah waktu, jarak, dan ketersediaan akses pelayanan kesehatan. Perlu ada kick off antara semua pemangku kepentingan rumah sakit dari pemilik rumah sakit, dokter, atau regulator agar bersama-sama berkomitmen memakai teknologi informasi. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.