Catat, 13 Oktober Hari Tanpa Bayangan di Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bayangan tangan petenis asal Amerika Serikat, Jared Donaldson saat bertanding melawan petenis asal Bulgaria, Grigor Dimitrov dalam Turnamen Prancis Terbuka di Roland Garros stadium, Paris, Prancis, 30 Mei 2018. (AP Photo/Thibault Camus)

    Bayangan tangan petenis asal Amerika Serikat, Jared Donaldson saat bertanding melawan petenis asal Bulgaria, Grigor Dimitrov dalam Turnamen Prancis Terbuka di Roland Garros stadium, Paris, Prancis, 30 Mei 2018. (AP Photo/Thibault Camus)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Yogyakarta akan mengalami hari tanpa bayangan pada 13 Oktober 2019. Stasiun Klimatologi Yogyakarta mencatat pada hari itu akan terjadi fenomena equinox atau matahari tepat berada di garis khatulistiwa, sehingga pada siang hari tidak ada bayangan.

    Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan untuk wilayah Yogyakarta yang berada di selatan equator, kulminasi matahari diperkirakan terjadi pada 13 Oktober 2019 pukul 11.24 WIB. Kondisi ini biasa disebut hari tanpa bayangan.

    “Pada bulan Maret dan September, sering disebut equinox. Artinya matahari tepat berada di garis khatulistiwa,” kata Etik, Senin, 7 Oktober 2019.

    Ia menjelaskan, equinox terjadi setahun dua kali yaitu pada 21-23 September dan 21-23 Maret. Fenomena ini sudah menjadi hal yang rutin di Kalimantan Barat tepatnya di Tugu Katulistiwa.

    Fenomena equinox di Yogyakarta adalah pada saat posisi matahari tegak lurus tepat di atas wilayah kota ini.

    Di sisi lain, suhu udara di Yogyakarta sangat panas beberapa hari ini. Jika malam hari, udara terasa sangat gerah.

    Hasil pantauan Stasiun Klimatologi rata-rata suhu udara maksimum di Yogyakarta di siang hari beberapa hari ini berkisar antara 31-32 derajat Celcius. Suhu udara terpanas di Yogyakarta akan terjadi sepekan lagi, yaitu pada 13 Oktober 2019 mendatang tepat saat hari ada fenomena equinox.

    Menurut Etik, kondisi iklim yang biasa terjadi di periode kulminasi matahari ini umumnya suhu udara memang terasa lebih panas. Suhu rata-rata saat ini berkisar 31-32 derajat Celcius. Sedangkan pada saat hari tanpa bayangan, suhu udara bakal meningkat atau sangat gerah.

    “Sebagai gambaran pada 2018 lalu, suhu maksimum di Yogyakarta terjadi pada Oktober dengan suhu 34,8 derajat Celcius. Suhu maksimum yang pernah terjadi mencapai 35.6 derajat Celcius," kata Etik.

    R. Anshori, 42 tahun, warga Bantul, merasakan panasnya udara di daerahnya. Bahkan pada malam hari udara sangat terasa gerah. "Siang terasa sangat panas dan malam sangat gerah udaranya. Biasanya kalau tidur pakai selimut, sekarang malah cuma pakai celana pendek karena gerah,” kata dia.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.