Besok Hari Tanpa Bayangan di Bogor

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Refleksi warga yang menyaksikan proses kerja alat deteksi Kulminasi Matahari, di Tugu Khatulistiwa, Pontianak. Terjadi dua kali dalam setahun, 21-23 Maret dan 21-23 September. ANTARA/Jessica Helena Wuysang/ss/nz/12.

    Refleksi warga yang menyaksikan proses kerja alat deteksi Kulminasi Matahari, di Tugu Khatulistiwa, Pontianak. Terjadi dua kali dalam setahun, 21-23 Maret dan 21-23 September. ANTARA/Jessica Helena Wuysang/ss/nz/12.

    TEMPO.CO, Jakarta -  Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa Kamis besok, 10 Oktober 2019, merupakan hari tanpa bayangan.

    Hari tanpa bayangan adalah hari di mana pada pertengahan hari jika kita berdiri dalam posisi tegak lurus maka bayangan kita akan menutupi badan kita secara sempurna.

    "Dalam astronomi kondisi ini disebut dengan kulminasi," kata Kepala Stasiun Meteorologi Citeko Asep Firman Ilahi kepada Antara, Rabu, 9 Oktober 2019.

    Menurut dia, fenomena bernama kulminasi ini terjadi sebanyak dua kali dalam setahun. Tahun ini berlangsung pada 22 Maret dan 10 Oktober.

    Masing-masing wilayah akan mengalaminya secara bergantian dalam hitungan menit. Khusus di wilayah Bogor, hari tanpa bayangan 10 Oktober berlangsung pada pukul 11:39:54 WIB.

    Asep mengatakan, kulminasi adalah fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai kulminasi utama. Pada saat itu, matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit.

    Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat "menghilang" karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Karena itu, hari saat terjadinya kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.

    Hari tanpa bayangan disebabkan karena bentuk lintasan bumi mengelilingi matahari yang tidak bulat, melainkan berbentuk elips dengan posisi matahari berada di tengahnya.

    Selain itu pada saat mengelilingi matahari, bumi berputar seperti gasing dengan gerak semu matahari 23,5 derajat utara dan selatan. Sehingga seolah-olah matahari berada di utara dan kembali ke selatan.

    "Fenomena kulminasi identik dengan masa transisi atau pancaroba. Dalam fase ini, ketika matahari bergulir ke selatan maka di belahan bumi selatan akan mengalami kenaikan suhu permukaan laut dan ditandai dengan musim hujan di selatan. Begitu juga sebaliknya," katanya.

    Untuk memeriksa waktu hari tanpa bayangan di berbagai kota, cek di bmkg.go.id.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.