Berakhirnya Tugas F18 Hornet di Angkatan Laut AS

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Letnan Andrew Jalali mempersiapkan penerbangan terakhir Hornet F / A-18C Angkatan Laut AS Oceana pada 2 Oktober 2019. (Dok. Angkatan Laut AS)

    Letnan Andrew Jalali mempersiapkan penerbangan terakhir Hornet F / A-18C Angkatan Laut AS Oceana pada 2 Oktober 2019. (Dok. Angkatan Laut AS)

    TEMPO.CO, Jakarta - Jet tempur F / A-18C  Hornet  Angkatan Laut AS secara resmi pensiun. Pesawat dengan mesin ganda multirole C model terakhir melakukan penerbangan perpisahannya di Pangkalan Angkatan Laut Oceana,  Virginia, pada 2 Oktober 2019.

    Penerbangan terakhir Hornet yang berusia 31 tahun termasuk tiga F / A-18F Super Hornets itu, menandai transisi Angkatan Laut AS  ke jet tempur super canggih F-35.

    Hornet, dengan ekor bernomor 300 itu, selama ini menjadi bagian Skuadron 106 "Gladiator" di Cecil Field, Florida. Angkatan Laut AS menerima pesawat pada 14 Oktober 1988. Pilot untuk penerbangan terakhirnya, Letnan Andrew Jalali, juga lahir pada tahun yang sama, demikian siaran pers Angkatan Laut seperti dikutip laman Military.com, 7 Oktober 2019.

    Sebelumnya, Skuadron 106 telah mengirimkan 50 Hornet sebagai pesawat cadangan Angkatan Laut dan komando penerbangan AS dalam setahun terakhir.  

    F / A-18 Hornet dikembangkan pada akhir 1970-an sebagai YF-17 Cobra, pesaing untuk program Pesawat Tempur Ringan Angkatan Udara AS. Setelah kalah bersaing dengan F-16 Fighting Falcon, raksasa aerospace Northrop dan McDonnell Douglas bekerja sama untuk membuat versi berbasis operator. Hasilnya adalah F / A-18 Hornet.

    Hornet, yang dirancang untuk melakukan misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat secara merata, adalah pejuang pertama yang memasukkan "F" untuk fighter dan "A" untuk attack  dalam nama pesawat.

    Pesawat tempur Angkatan Udara Amerika Serikat, F/A 18F Super Hornet terbang di atas kapal induk Amerika, USS Gerald R. Ford saat uji coba sistem peluncuran magnetik EMALS di Samudra Atlantik, 28 Juli 2017. US Navy/Erik Hildebrandt/Handout via REUTERS

    Hornet bergabung dengan armada pada tahun 1983, menggantikan F-4 Phantom dan A-7 Corsair di Angkatan Laut dan Korps Marinir. Model -A awal memberi jalan bagi model -C yang ditingkatkan, dan pada 1990-an Angkatan Laut memperkenalkan versi yang lebih besar, lebih berat, F / A-18E / F Super Hornet.

    Misi tempur pertama Hornet adalah Operasi El Dorado Canyon, serangan udara tahun 1986 di Libya. Setelah itu, jet tempur ini terlibat dalam Operasi Badai Gurun 1991 hingga serangan udara ke ISIS.

    Pensiunnya F-14 Tomcat pada 2006 membuat Hornet / Super Hornet satu-satunya jet tempur Angkatan Laut AS yang beroperasi dari kapal induk. Hornet tetap berada di layanan Angkatan Laut lebih lama dari yang direncanakan, karena masalah teknis dengan F-35C Joint Strike Fighter baru.

    Angkatan Laut AS mengadakan upacara pensiun untuk Hornet pada Februari 2019 tetapi beberapa pesawat tetap terbang. Skuadron demonstrasi udara Blue Angels Angkatan Laut AS masih menerbangkan sekitar setengah lusin F / A-18 tetapi akan diganti dengan model awal F / A-18E / F Super Hornets pada tahun 2021. Hornet juga masih digunakan Korps Cadangan Angkatan Laut AS sebagai pesawat agresor dan dijadwalkan terbang dengan Korps Marinir AS hingga 2030.

    MILITARY | FlIGHTGLOBAL | POPULAR MECHANICS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.