Ketahanan Keluarga Jadi Kunci SDM Indonesia Unggul

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris KPPPA Pribudiarta Nur Sitepu, Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPPPA Agustina Erni, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, beserta pembicara dan jajaran kementerian terkait dalam seminar nasional bertajuk 'Kesetaraan Gender dan Ketahanan Keluarga sebagai Pondasi Pembentukan SDM Unggul' di Jakarta Selatan, Senin 14 Oktober 2019. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    Sekretaris KPPPA Pribudiarta Nur Sitepu, Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPPPA Agustina Erni, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, beserta pembicara dan jajaran kementerian terkait dalam seminar nasional bertajuk 'Kesetaraan Gender dan Ketahanan Keluarga sebagai Pondasi Pembentukan SDM Unggul' di Jakarta Selatan, Senin 14 Oktober 2019. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada tahun 2045, Pemerintah berharap Indonesia menjadi negara maju dengan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo juga mengungkapkan akan menjadikan SDM sebagai fokus pembangunan nasional.

    Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Pribudiarta Nur Sitepu, menyebutkan bahwa pembangunan nasional pada dasarnya diselenggarakan pemerintah bekerja sama dengan para stakeholder lintas bidang untuk kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat yang lebih baik.

    KPPPA hadir untuk mendorong terwujudnya Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur sebagaimana visi dari Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.

    "Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat di mana setiap orang pasti tumbuh dan berkembang di keluarganya masing-masing," ujar Pribudiarta di Jakarta, Senin 14 Oktober 2019.

    Menurut Pribudiarta, Indonesia memiliki lebih dari 81 juta keluarga. Sayangnya, keluarga di Indonesia masih dihadapi oleh sejumlah tantangan dan permasalahan yang berdampak pada individu di dalamnya.

    "Misalnya, meningkatnya angka pernikahan usia anak, meningkatnya angka perceraian, higga kekerasan dalam rumah tangga," lanjutnya. Ia menyayangkan hal ini mengingat keluarga sebagai penentu kualitas hidup para anggotanya, termasuk perempuan dan anak.

    Oleh karena itu, ketahanan keluarga menjadi isu yang krusial dalam pembangunan nasional yang digalakkan untuk mencapai SDM unggul, Indonesia maju.

    Deputi Bidang Kesetraan Gender KPPPA, Agustina Erni, mengungkapkan bahwa ketahanan keluarga menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 ialah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarga untuk mencapai keadaan harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin.

    "Dalam ketahanan keluarga, legalitas formal keluarga, keutuhan keluarga, dan kesetaraan gender menjadi pondasi utama yang menopang empat pilar ketahanan keluarga," ungkap Agustina di kesempatan yang sama.

    Konsep ketahanan keluarga tersebut, menurut Agustina, termuat dalam Peraturan Menteri KPPPA Nomor 6 Tahun 2013 tentang pelaksanaan pembangunan keluarga. Empat pilar ketahanan keluarga yang dimaksud ialah ketahanan fisik di mana keluarga terpenuhi kebutuhan sandang, pangan, perumahan, pendidikan, dan kesehatannya. Kedua, ketahanan ekonomi di mana mampu memenuhi kebutuhan ekonomi anggota keluarganya dengan pendapatan perkapita yang melebihi kebutuhan fisik minimum.

    Selanjutnya ketahanan sosial psikologi di mana keluarga mampu menanggulangi masalah non-fisik serta dapat mengendalikan emosi secara positif sehingga tidak melakukan kekerasan terhadap anggota keluarganya. Terakhir yakni ketahanan sosial budaya di mana keluarga mampu menjalankan keyakinan agamanya, dapat berkomunikasi secara efektif serta dapat membina hubungan sosial.

    Kemudian, untuk mengukur SDM yang unggul, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Kawasan Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sonny Harry Budiutomo mengungkapkan lima kriteria yang bisa digunakan.

    Pertama, SDM dikatakan unggul dilihat dari kemampuan berpikir atau intelegensianya. Kedua, SDM dikatakan unggul bila kondisi kesehatan yang berkualitas. Kemudian, SDM yang unggul dicerminkan dengan tingkat kesejahteraan individu yang bagus. Keempat, SDM dikatakan unggul bila memiliki karakter spiritualitas, kematangan emosi dan sikap mental. Terakhir, SDM dikatakan unggul bila mampu mengenali dan mengembangkan potensi diri.

    GALUH PUTRI RIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.