Adu Jet Siluman Cina, Prancis, AS dan Jepang: Mana Tercanggih?

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat tempur Dassault Rafale dan X300 dari Angkatan Udara Perancis tampil mengudara dalam simulasi misi intersepsi penerbangan di ajang International Paris Air Show ke-53 di Bandara Le Bourget dekat Paris, Prancis 21 Juni 2019. REUTERS/Pascal Rossignol

    Pesawat tempur Dassault Rafale dan X300 dari Angkatan Udara Perancis tampil mengudara dalam simulasi misi intersepsi penerbangan di ajang International Paris Air Show ke-53 di Bandara Le Bourget dekat Paris, Prancis 21 Juni 2019. REUTERS/Pascal Rossignol

    TEMPO.CO, Jakarta- India memperbarui armada tempurnya dengan membeli 36 jet tempur siluman Rafale buatan Prancis, yang diserahkan secara simbolis ke Angkatan Udara India (IAF) pada 8 Oktober 2019.

    Namun, bukan hanya Prancis yang memamerkan jet silumannya, negara lain seperti Cina, Amerika Serkat dan Jepang juga memproduksi jet siluman. 

    Masing-masing negara mengklaim bahwa jet tempur yang dibuatnya paling canggih. Lalu negara mana yang paling canggih? Tempo merangkum detail spesifikasi dari jet siluman seperti J-20, Refale, F-35 dan F-3, berikut penjelasannya: 

    1. J-20

    J-20 dianggap sebagai jawaban terhadap F-22 Raptor AS. Pada pertengahan Juli 2019, Angkatan Udara Cina merilis video latihan malam hari menggunakan pesawat tempur siluman sebagai demonstrasi kesiapan tempurnya.

    Militer Cina memamerkan rudal jet tempur siluman J-20 pada Zhuhai AIr Show pada 13 November 2018. Reuters

    Pesawat yang dikembangkan oleh Chengdu Aerospace Corporation ini, memulai pengujian pada Maret 2017. Sejauh ini beberapa lusin J-20 telah diproduksi untuk Angkatan Udara Cina. J-20 merupakan pesawat tempur satu kursi dan memiliki kemampuan menghindari deteksi radar.

    Pesawat itu memiliki berat lepas landas maksimum 25 ton, jarak tempur 1.200 km dan kecepatan tertinggi Mach 1.8, atau 2.205 km/jam. Sedangkan berat lepas landas pesawat tempur AS bervariasi antara 27 dan 32 ton, memiliki kecepatan tertinggi Mach 1,6 dan jangkauan hingga 2.200 km.

    J-20 menandai masuknya pesawat tempur siluman multirole pertama ke angkatan bersenjata Cina. Menurut Departemen Pertahanan Cina, mereka memandang teknologi siluman sebagai komponen inti dalam transformasi angkatan udara agar mampu melakukan operasi ofensif dan defensif.

    Centre for Strategic and International Studies mencatat, J-20 dirancang untuk meningkatkan kemampuan siluman dan kemampuan manuver, yang akan memberikan Cina berbagai pilihan mesin pertempuran udara yang sebelumnya tidak tersedia dan meningkatkan kemampuannya untuk memproyeksikan kekuatan.

    J-20 adalah bagian dari kelompok kecil pesawat tempur namun terbilang elit baik saat ini dalam operasional atau dalam pengembangan, yang bisa disejajarkan dengan F-22 Raptor AS dan T-50 PAK-FA Rusia. 

    US Naval War College menyebut J-20 bisa menjadi platform serangan permukaan yang efektif untuk beberapa ratus mil laut di lautan. Air Power Australia mencatat bahwa J-20 akan menjadi pilihan pesawat yang cocok untuk beroperasi di dalam rantai pulau pertama dan rantai pulau kedua Cina. The Global Times melaporkan pada 14 November 2018 bahwa J-20 sekarang mampu mengisi bahan bakar di udara, yang akan semakin memperluas jangkauan operasional pesawat tempur generasi kelima di seluruh Asia-Pasifik.

    2. Rafale

    India memperbarui armada tempurnya dengan membeli 36 jet tempur siluman Rafale buatan Prancis untuk meningkatkan posisi pertahanan di hadapan Pakistan dan Cina.

    Rafale baru bisa dilihat di atas langit India pada Mei 2020. Setelah itu satu persatu pesawat akan tiba sampai 2021. India adalah negara keempat setelah Prancis, Mesir dan Qatar, yang menerbangkan Rafale.

    Pesawat lama India, termasuk Mirage 2000 buatan Dassault dan Su-30MKI buatan Rusia, digolongkan sebagai pesawat tempur generasi ketiga atau keempat. Sedangkan Rafale dikategorikan sebagai jet tempur generasi keempat-plus berkat kemampuan siluman yang bisa mengelak dari radar.

    Kekuatan Rafale terletak pada radar canggih dan serangkaian rudal Meteor, Scalp, dan Mica, di samping 13 perangkat tambahan khusus pesanan India, kata para analis. Sistem radar RBE2 yang dipasang pada Rafale menungkinkan pelacakan pesawat lawan. Rudal Meteor udara-ke-udara bisa mencapai 300 km dan menjangkau sasaran. Mica memiliki kemampuan intersepsi siluman yang unik.

    Khusus untuk pesanan India, Rafale dilengkapi alat pengendali serangan pada helm pilot sehingga tembakan bisa dilakukan lebih cepat dan akurat. Pesawat juga memiliki sistem umpan untuk menggagalkan rudal lawan. Rafale juga modifikasi dalam sistem starter bahan bakar yang akan memungkinkan mesin pesawat beroperasi pada tingkat optimal bahkan di pangkalan udara di ketinggian seperti Leh.

    Dilengkapi berbagai macam senjata, Rafale dapat melakukan supremasi udara, serangan, anti-kapal dan menjadi platform pengiriman strategis untuk misi udara nuklir. Rudal Meteor BVRAAM dengan jangkauan lebih dari 180 km akan memiliki zona tanpa-lepas lebih dari 60 km.

    Masuknya Rafale sangat penting bagi IAF, yang akan segera menonaktifkan pesawat MiG-21 Bison dan segera bisa duduk sejajar dengan Cina dan Pakistan. Sebagian besar jet pasukan Pakistan terdiri dari F-16 buatan AS selain beberapa JF-17 buatan Cina.

    3. F-35 

    F-35 Lightning adalah jet tempur multi-peran supersonik yang mewakili lompatan kuantum dalam kemampuan dominasi udara. Pesawat ini menawarkan tingkat penghancuran yang tinggi dan kemampuan bertahan di lingkungan wilayah udara anti-akses.

    F-35 Lightning II. [lockheedmartin.com]

    Raksasa pertahanan Amerika Serikat Lockheed Martin telah menerima modifikasi $ 2,43 miliar (setara Rp 34,5 triliun) untuk kontraknya untuk program Lightning II Joint Strike Fighter. F-35 dirancang sebagai pesawat yang mampu menyerang udara ke udara daripada pesawat tempur superioritas udara F-22 Raptor, yang tak lagi diproduksi.

    Modifikasi terhadap kontrak Komando Sistem Angkatan Laut dengan harga tetap melibatkan suku cadang awal untuk Korps Marinir, Angkatan Laut, Angkatan Udara, peserta Departemen Pertahanan (DoD) non-AS, dan pelanggan Penjualan Militer Luar Negeri (FMS).

    "Suku cadang yang akan dibeli termasuk paket suku cadang global, suku cadang dasar, suku cadang penyebaran, suku cadang terapung dan bahan habis pakai terkait," kata Departemen Pertahanan dalam pernyataannya, dikutip Defence Blog, baru-baru ini.

    Menurut informasi saat ini, semua pesanan diharapkan selesai  selambat-lambatnya pada Desember 2020. Dilansir Seapower Magazine, Jeffrey Parker, mantan pilot pesawat tempur Angkatan Udara AS (USAF) dan CEO Airborne Tactical Advantage Company (ATAC) mengatakan bahwa F-35 dapat dengan mudah menandingi pesawat musuh dalam jumlah besar.

    ”Tidak ada yang mendekati (F-35)," kata Parker, dikutip National Interest. "Saya telah terbang dengan F-35B di Beaufort (SC Air Station) Beaufort (SC). Ini pesawat yang mengesankan. Bahkan di tangan siswa, itu adalah petarung yang sangat cakap."

    4. F-3

    Jet siluman Jepang yang baru F-3 akan mulai menggantikan lebih dari seratus pesawat tempur bermesin tunggal F-2 buatan Mitsubishi akhir 2030-an. Dikutip dari National Interest, beberapa waktu lalu, F-3 diklaim lebih tangguh daripada jet siluman andalan Amerika Serikat F-35.

    Kajian Pertahanan Jangka Menengah 2019 Jepang diam-diam memutuskan maju mengembangkan pesawat tempur siluman superioritas udara Mitsubishi F-3 generasi keenam. Pesawat itu dirancang secara domestik.

    Pada Februari 2019, Kementerian Pertahanan Jepang mengkonfirmasi persyaratan kinerja F-3 akan dirilis dalam anggaran 2020, dengan pengembangan secara resmi dimulai pada 2021 dan penerbangan pertama ditargetkan  2030.

    Sebuah channel televisi Jepang pada Maret 2018 mengungkap rekaman close-up dari mesin turbofan XF 9-1 berkekuatan tinggi. Mesin canggih dan radar Array yang dipindai secara elektronik sedang diperbaharui dan dikembangkan untuk program F-3.

    Secara khusus juga diungkapkan biaya pengembangan program yang diproyeksikan sebesar 5 triliun Yen, setara US$ 45 miliar. Biaya per-pesawat  melebihi angka 20 miliar Yen (US$ 179 juta).

    Perjalanan jet siluman Jepang dimulai pada 2016, yang mencapai tonggak teknologi ketika menerbangkan Advanced Technology Demonstrator (ATD) X-2 Shinshin. Dalam pengembangan sejak 2007, ATD seharga US$ 350 juta merupakan inovasi untuk kemampuan manuver ekstrem dan kecepatan penerbangan jelajah super.

    Namun, ATD bukan prototipe untuk pesawat tempur yang lengkap. Tokyo awalnya menolak proyek US$ 45 miliar itu, sehingga  pengembangan lebih lanjut ikut terhenti.

    NATIONAL INTEREST | INDIA TIMES | LIVE MINT | INDIA TODAY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.