Jakarta Terasa Lebih Panas sampai Pekan Depan, Hindari Dehidrasi

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita mengenakan payung di pantai. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita mengenakan payung di pantai. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Suhu udara di Jakarta dalam beberapa hari terakhir terasa lebih menyengat. Pada siang hari, suhu udara bisa mencapai 37 derajat celcius. Terik matahari juga terasa lebih panas daripada biasanya.

    Berdasarkan keterangan pers dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) yang diterima Antara, panasnya suhu di Jakarta dirasakan juga di wilayah Pulau Jawa sampai Nusa Tenggara.

    Hal ini disebabkan oleh gerak semu matahari yang sejak bulan September bergerak melalui daerah khatulistiwa menuju bumi bagian selatan.

    "Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Prabowo.

    Minimnya tutupan awan akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara.

    Gerak semu matahari merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

    Dalam waktu sekitar satu minggu ke depan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan dan kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya.

    Oleh karena itu, BMKG menyarankan masyarakat untuk sering meminum air putih untuk menghindari dehidrasi dan menggunakan pakaian yang melindungi tubuh dari sengatan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.