Kayu Purba Berumur 19 Juta Tahun Ditemukan di Dasar Teluk

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fosil kayu berumur 19 juta tahun yang ditemukan di dasar laut Teluk Benggala (ukuran dalam cm). (pnas.org)

    Fosil kayu berumur 19 juta tahun yang ditemukan di dasar laut Teluk Benggala (ukuran dalam cm). (pnas.org)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Sisa-sisa kayu dari hutan purba telah ditemukan jauh di bawah laut, ribuan kilometer dari tempat asalnya yang bergunung-gunung. Para ilmuwan menemukan serpihan kayu berumur 19 juta tahun di lapisan endapan di dasar Teluk Benggala.

    Peneliti yang dipimpin Sarah Feakins, dari University of Southern California, Los Angeles, mengebor lebih 3 km dari permukaan laut, mengambil sedimen dari 800 meter  di bawah dasar laut. Dari hasil analisis sampel inti, tim dapat melihat bagaimana pohon disapu jutaan tahun yang lalu sebelum terperangkap di tanah.

    "Penemuan fragmen kayu di lapisan butir kasar dari lapisan turbidite menunjukkan bahwa input kayu mungkin merupakan kontributor yang diabaikan untuk siklus (karbon organik) di Bengal dan di vagian benua lainnya dalam rentang waktu geologis," tulis peneliti.

    Dengan melihat serpihan kayu di inti, tim dapat menentukan dari mana pohon-pohon itu berasal. Dalam kebanyakan kasus, mereka menemukan kayu itu dari pohon yang tumbuh di dataran rendah, dekat laut. Namun, satu lapisan ditemukan memiliki kayu dari pohon yang tumbuh tinggi di pegunungan Himalaya, sekitar 3,2 km di atas permukaan laut.

    Dalam studi yang diterbitkan di PNAS, tim berpendapat bahwa pohon-pohon di dalam hutan kuno tumbang akibat hantaman air yang sangat besar. Pohon-pohon ini kemudian hanyut ribuan km di sepanjang gelombang besar air — dari angin topan, angin musim atau banjir.

    "Temuan itu menyimpulkan karbon organik yang dikunci dalam batas benua mungkin lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya," tulis penelitian itu. "Perpindahan dan penguburan kayu yang cepat melambangkan jalur penyerapan CO2 atmosfer yang sangat efisien."

    Tim mengatakan ini adalah bukti pertama yang menunjukkan pohon dapat diangkut ribuan km dari gunung ke laut dalam. Temuan mereka juga menjelaskan peran kayu dalam siklus karbon Bumi, cara karbon berpindah dari atmosfer ke planet dan organisme-organismenya.

    Para ilmuwan saat ini bekerja untuk memahami siklus karbon, dengan para peneliti di AS meluncurkan Deep Carbon Observatory (DCO) lebih dari satu dekade lalu. Laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa kurang dari 1 persen total karbon Bumi berada di atas permukaan - di lautan, di darat dan di atmosfer. Sisanya terkunci dalam kerak, mantel, dan inti planet ini.

    NEWS WEEK | PNAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.