Putri Tanjung dan Lisje, Orangutan Induk dan Anak Dilepasliarkan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orangutan Putri Tanjung, 14 tahun,  dan anaknya Lisje,1 tahun, dilepasliarkan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) di Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat, 29 Oktober 2019. (Dok.YPOS)

    Orangutan Putri Tanjung, 14 tahun, dan anaknya Lisje,1 tahun, dilepasliarkan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) di Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat, 29 Oktober 2019. (Dok.YPOS)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) kembali melepasliarkan tiga orangutan Kalimantan atau Pongo pygmaeus pygmaeus di Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat.

    Yang menarik, menurut Manajer Komunikasi Yayasan Masarang dan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang Koen Setyawan, dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Kamis, dua individu yang dilepasliarkan pada Selasa, 29 Oktober 2019 itu, di antaranya adalah induk dan bayi.nya

    Orangutan pertama berusia enam tahun bernama Digo, sedangkan orangutan induk dan bayi adalah Putri Tanjung berusia 14 tahun dan Liesje berusia satu tahun.

    Liesje, kata Koen, sekaligus menjadi orangutan termuda yang pernah dilepasliarkan oleh YPOS. Sedangkan Digo dan Putri Tanjung merupakan orangutan sitaan yang kemudian direhabilitasi di YPOS.

    Bayi orangutan Liesje dilahirkan di pusat rehabilitasi tersebut. Sedangkan Digo diselamatkan oleh BKSDA Kalimantan Barat pada bulan Mei 2013 di Pontianak dari pemiliknya.

    Saat itu umurnya baru lima bulan. Setelah menjalani masa rehabilitasi kesehatan di Sintang selama 1,5 tahun, orangutan betina ini kemudian menjalani masa rehabilitasi tingkah laku di Sekolah Hutan Tembak sejak Desember 2015.

    Putri Tanjung berumur sembilan tahun saat diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah Konservasi II Sintang dan YPOS pada 14 Januari 2014. Orangutan dari Kabupaten Melawi itu menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kandang besi berukuran 1,5x1,5x1,5 meter di rumah pemeliharanya.

    Setelah menjalani masa rehabilitasi kesehatan di Sintang, Putri Tanjung mulai mengikuti Sekolah Hutan Tembak sejak 12 September 2015. Saat menjalani masa rehabilitasi tingkah laku di sekolah hutan, Tanjung kawin dengan Mamat, seekor orangutan jantan penghuni sekolah hutan yang sama.


    Digo (ANTARA/HO-YPOS)

    Pada 8 April 2018, Putri Tanjung melahirkan bayi orangutan betina. Bayi itu diberi nama Liesje sebagai penghormatan bagi Liesbeth van der Burgt, seorang relawan asal Belanda yang membantu menghimpun dana bagi pembangunan Sekolah Hutan Jerora.

    Liesbeth sering dipanggil Liez oleh teman-temannya. Tambahan “je”- lazim dipakai sebagai tambahan panggilan kesayangan bagi anak-anak di Belanda.

    Pada 29 Oktober 2019, Digo, Putri Tanjung dan Liestje dilepasliarkan ke Taman Nasional Betung Kerihun. Pelepasliaran ini juga dihadiri oleh beberapa lembaga yang mendukung upaya konservasi di YPOS antara lain Orangutan Rescue dan Weesaapjes.

    Pelepasliaran ini merupakan yang ke-5 oleh YPOS. Beberapa bulan sebelumnya, dua orangutan jantan, Oscar dan Gagas sudah dilepasliarkan di lokasi yang sama dan keduanya dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya dengan baik.

    Segera setelah dilepaskan, kedua orangutan itu bergerak menjauhi lokasi pelepasliaran. "Semoga Digo, Liesje dan Putri Tanjung segera dapat beradaptasi dengan baik di  rumah barunya," kata Koen.

    Sebelumnya senior expert Climate Justice and Forests Milieudefensie (Friends of the Earth) Janneke Bazelmans kepada ANTARA di Amsterdam beberapa minggu lalu mengatakan ia dan putrinya ikut menjadi orang tua asuh dari orangutan tersebut. "Kami sangat senang dan bersemangat menanti pelepasliaran bayi orangutan itu."

    Meski belum bisa menyaksikan langsung pelepasliaran orangutan Janneke mengatakan senang bisa berpartisipasi dalam konservasi orangutan di Kalimantan. Dirinya berencana akan datang langsung suatu saat nanti untuk ikut melepasliarkan fauna yang dilindungi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.