Pejabat Tinggi AS Jadi Korban Peretasan Melalui WhatsApp

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi proses peretasan di era teknologi digital. (Shutterstock)

    Ilustrasi proses peretasan di era teknologi digital. (Shutterstock)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pejabat tinggi AS dan negara sekutunya menjadi sasaran peretas melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp.

    Menurut sumber Reuters yang memahami perkara investigasi internal WhatsApp, sasaran aksi penyadapan ini merupakan pejabat tinggi dan tentara di 20 negara yang tersebar di seluruh dunia.

    "Banyak dari negara-negara tersebut adalah sekutu AS," ungkap sumber Reuters, Kamis, 31 Oktober 2019.

    Aksi peretasan besar-besaran ini dapat memberikan konsekuensi politik dan diplomasi yang luas. Bahkan, dugaan jumlah korban peretasan ini lebih masif dibandingkan laporan sebelumnya.

    WhatsApp telah menggugat perusahaan pengawasan Israel, NSO Group, karena membantu mata-mata membobol sekitar 1.400 ponsel di 4 benua.

    Pihak yang menjadi sasaran peretasan mencakup diplomat, politisi, wartawan, dan pejabat senior pemerintahan.

    Dalam gugatan yang diajukan di pengadilan federal San Francisco, WhatsApp menuduh NSO memfasilitasi kegiatan peretasan pemerintahan di 20 negara. Negara-negara itu mencakup India, Meksiko, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

    WhatsApp yang berada di bawah payung Facebook menyebutkan 100 masyarakat sipil telah menjadi sasaran peretasan.

    WhatsApp mengatakan telah mengirimkan pemberitahuan peringatan kepada pengguna yang terdampak dari penyadapan tersebut pada awal pekan ini. Namun, perusahaan menolak untuk mengomentari identitas klien NSO Group, yang akhirnya memilih target.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.