Game Mayoritas Impor, Pemerintah Diminta Dukung Game Lokal

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Co-founder dan COO Anantarupa Studio Diana Paskarina menyebutkan bahwa Lokapala akan menjadi game MOBA pertama dari Indonesia. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    Co-founder dan COO Anantarupa Studio Diana Paskarina menyebutkan bahwa Lokapala akan menjadi game MOBA pertama dari Indonesia. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Co-Founder dan COO Anantarupa Studio Diana Paskarina mengungkapkan bahwa 99,8 persen game yang ada di Indonesia masih berasal dari luar negeri alias impor.

    "Dari total Rp 16 triliun pendapatan game di Indonesia, game lokal hanya mampu menyumbang 0,2 persen dari total tersebut. Hal ini dikarenakan 99,8 persen game yang ada di Indonesia itu masih impor," ujar Diana di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Minggu, 3 November 2019.

    Diana melanjutkan, hal ini dikarenakan developer game lokal Indonesia saat ini baru bisa mengembangkan game casual atau indie. "Akibatnya, pendapatannya pun ikut sedikit," lanjutnya.

    Diana tak menampik bahwa salah satu kendala utama yang dialami oleh developer game lokal ialah masalah biaya. "Kalau berkaca dari pembuatan game Lokapala itu menelan biaya sekitar USD 1 juta. Kita semua funding-nya nyari sendiri," kata dia. Makanya, Diana meminta pemerintah untuk ikut serta mendorong kemajuan developer game lokal, misalnya dalam hal penggalangan dana hingga promosi.

    "Kita sebagai developer hanya bisa berkarya. Pemerintah mungkin bisa bantu dari segi pendanaan, mencarikan investor, atau membantu promosi. Bahkan di negara luar, kalau contoh yang ekstrem, itu negara memblokir game dari luar negerinya, supaya apa? Supaya game lokalnya hidup," ungkap Diana.

    Lebih jauh lagi, Diana menegaskan bahwa game lokal di era esport saat ini menjadi penting. Menurut data Newszoo 2018, Diana menyebutkan bahwa pangsa pasar game secara global mengalami tren kenaikan hingga 13,3 persen. Sementara di Indonesia sendiri, pangsa pasarnya naik hingga 37 persen.

    "Sayangnya, orang Indonesia lebih memilih menjadi pemain game profesional maupun memilih menjadi penyelenggara turnamen game, ketimbang menjadi developer game lokalnya sendiri," ujar Diana. "Padahal semua muaranya kan ada di game-nya, kalo nggak ada game, nggak bakalan ada penyelenggaraan turnamen bahkan pemain profesionalnya," lanjutnya.

    Jika berkaca pada negara lain, kata Diana, game sekarang sudah menjadi suatu komoditas ekspor. "Game merupakan bentuk ekspor budaya tertinggi. Di Cina, game jadi satu dari lima komoditas ekspor unggulan. Bahkan di Korea Selatan, game 11 kali lebih besar diekspor ketimbang budaya K-Pop," ungkap Diana.

    Dengan demikian, Diana berpendapat bahwa Indonesia saat ini harus mengejar ketertinggalannya dalam hal membuat sendiri game lokalnya. Diana melalui Anantarupa Studio tengah menuntaskan game lokal bernama Lokapala. Game ini akan menjadi game genre Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) pertama dari Indonesia.

    Lokapala merupakan hasil kolaborasi Anantarupa Studio dengan pelaku lintas sektor industri kreatif, di antaranya Caravan Studio, Ragasukma Comic, Kratoon, InHarmonics, serta Elwin Hendrijanto selaku komposer musik.

    "Lokapala merupakan game MOBA yang hadir dengan latar belakang budaya dan sejarah nusantara. Melalui game ini, kami ingin mengenalkan sebagian tokoh-tokoh sejarah dan mitologi nusantara melalui konsep desain visual dalam game dengan konteks terkini," kata Diana. Rencananya, game ini akan dirilis pada Januari 2020 mendatang.

    GALUH PUTRI RIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.