Nadiem Buat Aplikasi Pendidikan, Pakar LIPI: Perhatikan Ekosistem

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendikbud Nadiem Makarim bersiap mengikuti foto bersama seusai pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    Mendikbud Nadiem Makarim bersiap mengikuti foto bersama seusai pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Anggi Afriansyah menanggapi rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk membuat aplikasi pendidikan. Anggi berpendapat bahwa aplikasi menjadi penting ketika dilakukan di wilayah yang infrastrukturnya memadai.

    "Aplikasi pendidikan itu menjadi penting ketika operasionalnya dilakukan di wilayah yang akses internetnya memadai. Artinya bukan hanya aplikasi tapi bagaimana aplikasi itu harus dioperasionalkan di semua daerah," ujar Anggi Kepada Tempo melalui sambungan telepon, Rabu, 6 November 2019.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menceritakan bahwa Nadiem  meminta waktu 100 hari kepadanya untuk membuat perubahan sistem belajar berbasis aplikasi.

    "Mas menteri minta 'beri waktu saya pak 100 hari untuk menyiapkan dan merancang itu'," kata Presiden Jokowi dalam acara diskusi mingguan dengan wartawan kepresidenan di Istana Merdeka Jakarta, Jumat, 1 November 2019.

    Presiden menyebut "Mas Menteri" merujuk kepada mantan CEO Gojek berusia 35 tahun tersebut.

    Selain infrastruktur yang bisa mendukung aplikasi, kata Anggi, guru juga harus diperhatikan kualitasnya. "Secanggih apapun aplikasi kalau gurunya tidak paham ya percuma. Kalau bicara teknologi ya harus memperhatikan soal guru, sarana dan prasarannya," tutur Anggi.

    Namun, Anggi melanjutkan, persoalan utama di pendidikan itu adalah tentang rumitnya kurikulum. Kalau bicara pendidikan, Anggi berujar, dalam beberapa aspek Indonesia mengalami perubahan berulang mengenai kurikulum, ada KTSP sampai sekarang Kurikulum 13.

    Menurut Anggi PR pendidikan di Indonesia tidak hanya soal aplikasi, karena membuat aplikasi itu persoalan mudah, mengingat Menteri sekarang sudah sangat sukses dan terkenal membangun Gojek dengan aplikasinya.

    "Tapi bagaimana sarana prasarananya. Jadi kalau pendidikan bicara ekosistem tidak terlepas dari infrastruktur. Kita di pendidikan Indonesia ini lebih ribut di masalah administrasi tapi tidak ke masalah yang substansi," ujar Anggi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.