4 Usulan Pakar UPI kepada Nadiem dalam Membongkar Kurikulum

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nadiem Makarim ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Presiden Joko Widodo. Nadiem yang merupakan founder dan mantan CEO Gojek  menjadi menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju. Saat dilantik pada 23 Oktober 2019 lalu, Nadiem diketahui masih berusia 35 tahun. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Nadiem Makarim ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Presiden Joko Widodo. Nadiem yang merupakan founder dan mantan CEO Gojek menjadi menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju. Saat dilantik pada 23 Oktober 2019 lalu, Nadiem diketahui masih berusia 35 tahun. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Ace Suryadi, memberi saran kepada Mendikbud Nadiem Makarim yang mendapat perintah Presiden Jokowi untuk merombak kurikulum secara besar-besaran.

    Menurut Ace, kurikulum yang sekarang berlaku memang sudah waktunya diganti. Alasannya karena kurikulum ini lebih berbasis pada konten pelajaran teori ketimbang aplikasi atau terapan.

    “Saya kira sudah waktunya sekarang,” kata guru besar dari Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung itu, Rabu, 6 November 2019.

    Menurut Ace kurikulum sekolah sekarang ini lebih banyak memuat teori ilmu. Anak-anak diajari ilmu pengetahuan sejak kecil. “Padahal mereka tidak bakal jadi ilmuwan semua, paling yang jadi ilmuwan nggak sampai satu persen,” ujarnya.

    Sebagian besar siswa akan terjun untuk bergaul dan bekerja di masyarakat. Karena itu perubahan kurikulum SD, SMP, SMA sebagai pendidikan dasar harus jadi prioritasAda beberapa prinsip yang harus diperhatikan Mendikbud,” kata Ace.

    Kurikulum sekolah menurutnya tidak perlu diorganisir dalam mata pelajaran seperti sekarang. Ace mengatakan perlu kemasan baru kurikulum dalam bentuk program-program pendidikan. 

    Program itu dibagi empat. Pertama program pendidikan literasi agar siswa berkemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning skills). “Karena itu adalah tema sentral industri 4.0, setiap orang dituntut memilikinya.”

    Program berkomposisi sekitar 25 persen dari kurilukum sekolah itu harus memuat kemampuan membaca agar siswa memahami isi bacaan dengan cepat dan tepat.’ Kemudian kemampuan menulis untuk mengungkapkan gagasan dan pendapat secara jelas, tegas, dan santun.

    Lalu kemampuan menyimakserta mampu menuturkan secara lisan gagasan dan pendapat yang mudah difahami secara santun. “Satu lagi adalah matematika dasar, yaitu memahami logika angka, ruang dan bidang atau yang disebut numerasi.”

    Program kedua yaitu pengetahuan dasar (basic learning contentyang kini dipelajari di SD hingga SMA. “Nantinya  pendidikan pengetahuan dasar perlu disampaikan secara tematik,” kata Ace. Tujuannya untuk mengenalkan dan menganalisis tema atau isu sosial di lingkungan sekitarnya. Porsi bagian program  kurikulum ini cukup 25 persen.

    Program kurikulum ketiga yang berporsi 40 persen yaitu kecakapan terpakai (applied skillsatau sebelumnya disebut kecakapan hidup (life skills). Materinya berbasis kebutuhan daerah sehingga perlu dirancang kurikulumnya oleh pemerintah daerah. Sekolah juga perlu memfasilitasi minat siswa seperti berbisnis, olahraga, seni, teknologi informatika, dan menunya harus disiapkan.

    Kemudian program kurikulum berporsi 10 persen untuk pendidikan perekat NKRI, misalnya pendidikan karakter bangsa, agama, PPKN, sejarah nasional, Bahasa Indonesia. 

    Ace yakin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bisa mengganti kurikulum seperti itu. “Karena beliau punya wewenang, kekuasaan dan pengalaman di bidang digital,” kata dia. Adapun aspek teknologi digital menurutnya adalah alat bukan isi dari kurikulum. Teknologi itu dapat diaplikasikan untuk pembelajaran semua isi program kurikulum. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.