Diragukan Sukses sebagai Mendikbud, Nadiem: Ini Jadi Energi Saya

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di DPR, 6 November 2019. (Humas Kemendikbud)

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di DPR, 6 November 2019. (Humas Kemendikbud)

    TEMPO.CO, Jakarta - Dilantiknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menimbulkam banyak komentar masyarakat. Tidak sedikit yang meragukan kapasitasnya yang merupakan mantan pimpinan perusahaan teknologi GoJek.

    "Saya pribadi suka hal rumit dan sulit, semakin banyak orang bilang enggak mungkin, enggak bisa, saya senang dengan itu," ujar Nadiem dalam rapat kerja Kemendikbud dengan anggota DPR Komisi X di Komplek Senayan, Jakarta, Rabu, 6 November 2019.

    "Dulu juga seperti itu, itu menjadi energi buat saya, sehingga semakin lebih ingin mengatasi masalahnya."

    Nadiem ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam kabinet Indonesia Maju, Rabu, 23 Oktober 2019. Nadiem menggantikan Mendikbud lama Muhadjir Effendy.

    Dalam rapat kerja perdananya, Nadiem memaparkan lima arahan visi dan misi Presiden Jokowi dalam menciptakan SDM unggul dan sejumlah program kerja Kemendikbud.

    "Ada lima arahan visi dan misi dari Pak Presiden yang selanjutnya saya kembangkan yaitu pendidikan karakter, deregulasi dan debirokratisasi, meningkatkan investasi dan inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan teknologi," tutur Nadiem.

    Nadiem juga menyatakan apa yang disampaikan Presiden Jokowi kepada dirinya bahwa pendidikan di Indonesia perlu lompatan besar.

    "Menurut Presiden Jokowi di pendidikan perlu adanya lompatan, kalau diam di tempat itu bahaya. Untuk mencapai lompatan itu pasti ada kegagalan, tapi kalau diam di tempat itu kegagalan sebenarnya. Jadi harus maju," kata Nadiem.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.