DCI Bangun Gedung Data Center Ketiga Berkapasitas 12 MW

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT DCI mengumumkan pembangunan gedung data center ketiganya bernama JK3 berkapasitas 12 Megawatt. JK3 akan beroperasi pada awal 2020. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    PT DCI mengumumkan pembangunan gedung data center ketiganya bernama JK3 berkapasitas 12 Megawatt. JK3 akan beroperasi pada awal 2020. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan lokal penyedia layanan data center, PT DCI Indonesia (DCI), bekerja sama dengan Equinix Inc secara resmi mengumumkan pembangunan gedung data center ketiganya bernama JK3.

    "Sebagai salah satu bagian dari fasilitas hyperscale data center lokal terbesar di Indonesia, JK3 memiliki critical IT load sebesar 12 Megawatt (MW) dan mulai beroperasi pada awal tahun 2020 mendatang," ungkap Direktur Sales and Marketing DCI, J.C Gani, dalam acara 'Coffee Talk: Hyperscale Data Center Lokal, Perkuat Ekosistem Digital Indonesia 4.0' di Kantor DCI, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 13 November 2019.

    Gani mengatakan pembangunan JK3 ini juga merupakan salah satu rangkaian komitmen DCI untuk merampungkan fasilitas hyperscale data center campus seluas 8,5 hektare di Cibitung, Jawa Barat. "Nantinya data center campus ini memiliki total kapasitas lebih dari 150 MW," lanjutnya.

    Menurutnya, pembangunan JK3 merupakan bentuk komitmen dan keseriusan DCI dalam mendukung perkembangan ekonomi digital Indonesia menjelang era revolusi industri 4.0.

    "Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan mengalami lonjakan permintaan terhadap kebutuhan hyperscale data center khususnya menjelang revolusi industri 4.0. Transformasi teknologi digital seperti Cloud Computing, Big Data dan Internet of Things (IoT) akan menuntut pengolahan data berskala besar, sehingga dibutuhkan fasilitas data center yang handal, scalable, dan dengan keamanan tinggi," ungkapnya.

    Sementara itu, Presiden Direktur DCI Toto Sugiri mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia masih tertinggal dari Singapura dari segi ketersediaan infrastruktur data center. Menurut Data CBRE 2019 dan Economy SEA 2019, katanya, Indonesia hanya memiliki kapasitas data center sebanyak 50,2 MW dengan keterisian 33 MW. Sedangkan Singapura memiliki ketersediaan kapasitas data center sebesar 359,8 MW dengan keterisian 251 MW.

    "Sekarang zamannya sudah data driven. Kalau dilihat dari jumlah populasi Indonesia yang mencapai 264 juta jiwa, kapasitas data center Indonesia yang segitu seharusnya tidak cukup. Ini kok kita ketinggalan dari Singapura yang populasinya hanya kurang dari 6 juta jiwa," ungkap Toto dalam kesempatan yang sama.

    Dengan demikian, Toto menegaskan bahwa pembangunan JK3 sebagai bagian dari fasilitas hyperscale data center campus seluas 8,5 hektare mampu mendukung pembentukan ekosistem digital di dalam data center yang memiliki performa low latency dan cost efficiency. "Inilah yang dibutuhkan oleh para penyedia layanan cloud, e-Commerce, lembaga keuangan, penyedia layanan jaringan, dan perusahaan ke depannya," imbuhnya.

    Menanggapi pembangunan gedung data center ketiga DCI ini, Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menyambut baik hal ini. Menurut Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma, dengan berkembangnya data center lokal Indonesia, data-data privat Indonesia bisa disimpan dan diolah di dalam negeri sendiri.

    "Saat ini, data-data privat Indonesia masih boleh di-host dan diolah di luar negeri. Jadi, baik dari segi bisnis maupun kedaulatan data, ini merugikan Indonesia," ungkap Hendra. Sebelumnya, DCI telah mengoperasikan dua gedung data center, yakni JK1 dengan kapasitas 3 MW serta JK2 dengan kapasitas 7 MW.

    GALUH PUTRI RIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.