3 Program Inovasi Utama BRIN: Katalis Hingga Ekonomi Digital

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan sampel bahan bakar minyak (BBM) B-20, B-30, dan B-100 di Jakarta, Selasa, 26 Februari 2019. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, bahwa Indonesia dapat menggunakan campuran dari bahan nabati seperti minyak sawit dalam solar hingga 100 persen atau biodiesel 100 (B-100) pada tiga tahun mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menunjukkan sampel bahan bakar minyak (BBM) B-20, B-30, dan B-100 di Jakarta, Selasa, 26 Februari 2019. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, bahwa Indonesia dapat menggunakan campuran dari bahan nabati seperti minyak sawit dalam solar hingga 100 persen atau biodiesel 100 (B-100) pada tiga tahun mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bidang Penguatan Inovasi Jumain Appe menjelaskan ada tiga program inovasi utama yang sudah masuk ke agenda nasional.

    Jumain mengatakan program inovasi yang pertama adalah katalis dan bahan bakar nabati. "Kita sekarang ini punya tiga program utama yang masuk nasional. Satu adalah katalis dan bahan bakar nabati, itu menjadi fokus pemerintahan sekarang 2020-2024," ujar Jumain di Hotel Sari Pasific, Jakarta, Rabu, 13 November 2019. "Pokoknya kita akan bangun satu pabrik katalis yang mensubstitusi impor."

    Selama ini, Jumain melanjutkan, Indonesia impor katalis dengan harga US$ 24 per kilo. Sekarang Indonesia bisa memproduksi katalis dengan harga US$ 12 per kilo dan asli formula Indonesia.

    Produk tersebut, kata Jumain, bisa digunakan untuk mengolah bahan bakar, dari minyak sawit menjadi bahan bakar minyak. "Bisa juga untuk gasolin, bensin atau premium, bisa untuk diesel. Cuma bahan bakarnya harus kernel dari kelapa sawit itu," kata Jumain.

    Kedua, mengembangkan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) khususnya di bidang pertanian. Ini menjadi satu fokus, karena Indonesia harus meningkatkan nilai tambah SDA dengan menggunakan teknologi atau hasil inovasi dalam negeri.

    "Karena sekarang ini nilai tambahnya itu, kita ekspor raw material hanya penyulingan, harganya misalnya hanya Rp 500 ribu per kilo," tutur Jumain. "Setelah diproses oleh Singapura atau Malaysia harganya menjadi Rp 4,5 juta sampai Rp 5 juta per kilo, itu 10 kali lipat nilai tambahnya. Kenapa kita tidak melakukan itu, padahal teknologinya tidak terlalu sulit."

    Hal tersebut, Jumain berujar, menjadi program nasional pemerintahan sekarang, termasuk di dalamnya ada karet, kakao, minyak sirih, padi, kopi semuanya akan diangkat nilai tambahnya.

    Kemudian yang ketiga adalah pengembangan ekonomi digital, misalnya melahirkan unicorn-unicorn dan startup-startup baru yang memiliki nilai aset yang tinggi.

    "Nah yang tiga ini menjadi program inovasi yang kebetulan itu semua sudah ada di kita. Jadi sebenarnya kita tidak perlu melakukan dari nol karena kita sudah punya, mungkin di tiga perempat langsung bisa lompat. Jadi ini hal yang sangat bagus kalau memang pemerintah kita konsen ke situ," lanjut Jumain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.