Ilmuwan Ungkap Teka-teki Matahari Berusia 142 Juta Tahun

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada 8 Oktober 2014, daerah aktif di bawah sinar matahari mengubah penampilan seperti jack-o'-lantern atau labu Halloween. Gambar ini merupakan perpaduan dari 171 dan 193 cahaya angstrom yang ditangkap oleh Solar Dynamics Observatory. [NASA / GSFC / SDO / NBC News]

    Pada 8 Oktober 2014, daerah aktif di bawah sinar matahari mengubah penampilan seperti jack-o'-lantern atau labu Halloween. Gambar ini merupakan perpaduan dari 171 dan 193 cahaya angstrom yang ditangkap oleh Solar Dynamics Observatory. [NASA / GSFC / SDO / NBC News]

    TEMPO.CO, Jakarta -  Tim ilmuwan internasional termasuk dua astrofisikawan Bengaluru mengungkapkan misteri Matahari yang berusia 142 tahun. Penelitian baru ini diharapkan bisa menjawab salah satu teka-teki terbesar yang terkait dengan Matahari.

    Para peneliti dari Indian Institute of Astrophysics (IIA) menemukan bagaimana jet plasma skala kecil berjumlah sekitar satu juta hadir di Matahari setiap saat atau disebut spikula Matahari, dilahirkan dan mati di bintang. Penemuan bisa mengungkap misteri terbesar yang belum terpecahkan dalam astrofisika, yaitu bagaimana suhu dalam korona matahari meningkat.

    Korona adalah atmosfer luar Matahari, yang memanjang ke luar untuk beberapa juta kilometer di luar permukaan Matahari. Meskipun suhu pada inti Matahari mendekati 15 juta derajat Celcius, tapi turun menjadi 5.700 derajat di permukaan matahari (photosphere).

    Namun, di atas photosphere, suhu mulai meningkat lagi dengan ketinggian, mencapai satu juta derajat atau lebih di korona. Apa yang menyebabkan kenaikan suhu pada korona meskipun bergerak menjauh dari inti tetap menjadi misteri.

    Tanmoy Samanta yang mengambil gelar PhD di IIA, pengawas dan ilmuwan senior IIA Dipankar Banerjee, serta rekan-rekannya dari Cina, Amerika Serikat dan Eropa percaya bahwa spikula matahari memberi mereka kesempatan untuk memecahkan teka-teki itu.

    Ditemukan Pastor Angelo Secchi pada 1877, spikula matahari adalah skala kecil (3000-5000 km panjang dan 200-500 km lebar) jet plasma geyser seperti magnetis ditemukan di mana-mana di kromosfer, antarmuka antara photosphere dan korona.

    "Mempelajari mereka sulit karena setiap spikula - dari pembentukan hingga runtuh - hanya berlangsung beberapa menit meskipun setiap saat ada sekitar satu juta di antaranya di Matahari," kata Samanta kepada Deccanherald, baru-baru ini.

    Teleskop generasi tua tidak cukup canggih untuk mempelajari fitur tersebut. Terobosan datang ketika tim melakukan pengamatan dengan Goode Solar Telescope 1,6 m di Big Bear Solar Observatory, California, teleskop surya terbesar di dunia yang saat ini sedang operasional.

    Teleskop tidak hanya mengamati spikula berlebihan dengan sangat rinci, tapi juga mengukur medan magnet di fotosfer dengan resolusi spasial tinggi.

    “Spikula dihasilkan dari dua medan magnet polaritas yang berlawanan, saling memusnahkan, dan menghasilkan energi kinetik dan panas. Ini mengarah pada pembuatan jet plasma, yang pada gilirannya mungkin berkontribusi pada peningkatan suhu korona," demikian tertulis  dalam junal Science, Jumat lalu.

    Namun, ilmuwan perlu belajar lebih banyak untuk memastikannya. Para ilmuwan sekarang harus melakukan simulasi komputer canggih dan investigasi teoretis berdasarkan hasil pengamatan baru ini untuk menyelesaikan masalah pemanasan korona yang menjadi misteri Matahari.

    DECCAN HERALD | SCIENCE



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.