Mahasiswa ITB Buat Aplikasi Hear Me untuk Komunikasi Difabel Tuli

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswi asal Bandung, Athalia Mutiara Laksmi menunjukkan aplikasi Hear Me yang dirancangnya. Aplikasi itu dirancang untuk menjembatani komunikasi orang nin-difabel dengan orang tuli. (Tempo/ AHMAD RAFIQ)

    Mahasiswi asal Bandung, Athalia Mutiara Laksmi menunjukkan aplikasi Hear Me yang dirancangnya. Aplikasi itu dirancang untuk menjembatani komunikasi orang nin-difabel dengan orang tuli. (Tempo/ AHMAD RAFIQ)

    TEMPO.CO, Karangnyar - Mahasiswa ITBAthalia Mutiara Laksmi merancang sebuah aplikasi untuk menjembatani komunikasi dengan difabel tuli. Aplikasi itu mampu membawa Athalia menjadi salah satu finalis dalam Diplomat Success Challenge  (DSC) X yang digelar di The Tjolomadoe, Karanganyar, akhir pekan lalu.

     "Saat ini aplikasi ini dalam tahap uji coba," kata Athalia, di Solo, Selasa, 19 November 2019. Menurut dia masih memerlukan beberapa penyempurnaan sebelum melempar aplikasi itu ke pengguna telepon cerdas baik Android maupun iPhone.

    Aplikasi yang dinamakan Hear Me itu dirancang untuk menjembatani komunikasi masyarakat non-difabel dengan difabel tuli. "Tidak banyak masyarakat yang memahami bahasa isyarat yang biasa digunakan orang tuli," kata mahasiswi Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung itu.

    Melalui piranti lunak itu, masyarakat yang ingin berkomunikasi dengan difabel tuli cukup merekam suaranya. "Aplikasi akan menerjemahkannya dalam bahasa isyarat melalui animasi," katanya. Pengguna tinggal menunjukkan animasi di perangkatnya ke orang yang diajak berkomunikasi.

    Menurut Athalia, aplikasi rancangannya itu telah diuji coba oleh sekitar seratus orang. "Sebagian adalah komunitas tuna rungu di Bandung," katanya. Dia mengaku penggunanya sudah cukup puas dengan aplikasi itu.

    Hanya saja, dia mengakui bahwa komunikasi melalui aplikasi itu baru bersifat satu arah. Dari non-difabel ke orang tuli," katanya. Dia akan berusaha melengkapinya agar komunikasi bisa dilakukan dua arah.

    Caranya, aplikasi itu akan merekam video bahasa isyarat melalui gerakan tangan yang dilakukan oleh difabel tuli. Lantas, aplikasi itu akan menerjemahkan melalui suara dan huruf. "Sehingga komunikasi bisa lancar dan dua arah," katanya.

    Dia berharap hadiah dari Diplomat Success Challenge  (DSC) X yang diperolehnya bisa digunakan untuk menyempurnakan aplikasi itu. Dalam ajang audisi entepreuner itu, dia berhasil meraih hibah senilai Rp 250 juta.

    "Pada dasarnya aplikasi ini nantinya akan digunakan secara gratis untuk semua masyarakat," katanya. Aplikasi itu akan dilengkapi dengan beberapa fitur tambahan yang berbayar, misalnya fitur bahasa daerah.

    Athalia menceritakan ide itu berawal saat dia menggunakan jasa taksi online. "Driver taksinya membawa anaknya bekerja," katanya. Ternyata pengemudi tersebut tuli.

    "Anaknya bertugas menjadi penerjemah untuk ayahnya," katanya. Hal itu memunculkan ide untuk membuat piranti yang mampu menjembatani komunikasi berupa Hear Me.

    Athalia sebenarnya tidak memiliki latar belakang kemampuan di bidang teknologi informasi. "Kami lantas menggandeng sebuah perusahaan untuk bisa mewujudkan keberadaan aplikasi ini," katanya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.