Begini Cara Menristek Memeratakan Mutu Perguruan Tinggi Indonesia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Perguruan tinggi di Indonesia masih belum merata dari segi kualitas. Menurut Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro untuk bisa memeratakan kualitas perguruan tinggi di Indonesia bukan pekerjaan yang mudah.

    “Ya, pertama memang jumlah perguruan tinggi itu banyak sekali, sehingga untuk bisa memeratakan kualitas bukan pekerjaan yang mudah. Sebagian besar kan swasta,  jadi kita dorong swasta menjadi perguruan tinggi yang lengkap,” ujar Bambang di Gedung BPPT II, Jakarta Pusat, Selasa, 19 November 2019.

    Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional meluncurkan hasil penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi untuk periode 2016-2018. Berdasarkan analisis terhadap data yang telah diverifikasi, terdapat 47 perguruan tinggi yang masuk dalam kelompok mandiri, 146 kelompok utama, 479 kelompok madya dan 1305 kelompok binaan.

    Komponen yang dievaluasi meliputi sumber daya penelitian 30 persen, manajemen penelitian 15 persen, iuran atau output 50 persen, dan revenue generating 5 persen. Jumlah kontributor penilaian sebanyak 1977 perguruan tinggi, meningkat dari periode 2013-2015 yang hanya 1.447 perguruan tinggi.

    Penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi ini dilakukan berdasarkan data yang sudah dikumpulkan oleh masing-masing perguruan tinggi di Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau Simlitabmas.

    “Ini jumlah yang klaster binaan ini jangan dianggap buruk, karena sebenarnya perguruan tinggi di Indonesia itu jumlahnya sekitar 4.000-an. Jadi banyak universitas lain bahkan untuk daftar saja belum mau, kenapa? Karena belum memikirkan hal itu, mereka masih mungkin berpikir fokus bagaimana menjaga sustainability dari universitasnya dan bagaimana menjaga kelangsungan belajar mengajar,” tutur Bambang.

    “Tapi bagi yang sudah melewati masa itu (self assesment), mereka yang mulai berpikir penelitian. Perguruan tinggi swasta itu masih akan lebih berat kepada pengajaran sehingga penelitian belum menjadi fokus, sehingga wajar mereka masuk dalam binaan, karena di dalam penelitiannya masih sangat awal dan masih sangat terbatas,” kata Bambang.

    Bambang akan mendorong perguruan tinggi dari waktu ke waktu. Karena tentunya salah satu yang menjadi insentif bagi universitas untuk melakukan riset lebih serius adalah hibah yang diberikan oleh kementerian.

    “Perguruan tinggi yang lengkap yaitu perguruan tinggi yang tidak hanya pengajarannya tapi juga disertai penelitian untuk meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Sehingga perguruan tinggi bisa memberikan pelayanan pendidikan yang memadai untuk mahasiswanya,” tambah Bambang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.