Mengerikan, Hiu Paus Indonesia Makan 63 Potong Plastik per Jam

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria mengamati bangkai paus yang terdampar dengan plastik di dalam perutnya di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin, 19 November 2018.  Berdasarkan hasil identifikasi tim dari Balai Taman Nasional Wakatobi, selain plastik juga ditemukan banyak sampah kayu dan karet. REUTERS/KARTIKA SUMOLANG

    Seorang pria mengamati bangkai paus yang terdampar dengan plastik di dalam perutnya di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin, 19 November 2018. Berdasarkan hasil identifikasi tim dari Balai Taman Nasional Wakatobi, selain plastik juga ditemukan banyak sampah kayu dan karet. REUTERS/KARTIKA SUMOLANG

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari Aquatic Megafauna Research Unit, Elitza Germanov, mengungkapkan bahwa selama musim hujan di Indonesia ikan pari manta dan hiu paus telah menelan sebanyak 63 lembar plastik per jam. 

    “Dalam organisme lain, termasuk ikan, kita tahu bahwa paparan beberapa polutan yang terkait plastik dapat mengganggu fungsi reguler sistem endokrin, sistem yang bertanggung jawab mengendalikan pertumbuhan dan reproduksi," kata Germanov kepada Gizmodo, baru-baru ini.

    Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia dan sekelompok peneliti memutuskan untuk mempelajari efek dari semua plastik laut terhadap dua penghuni laut di Indonesia yang paling terkenal: pari manta dan hiu paus.

    Manusia menghasilkan 254 triliun ton sampah setiap tahun, yang sebagian besar berakhir di lautan. Setiap tahun, sekitar 5,25 triliun keping plastik baru dibuang ke laut, termasuk hampir 564 miliar botol air dan lebih dari 500 miliar kantong plastik.

    Paus sperma berukuran 9,5 meter ditemukan terdampar di perairan Desa Kapota Kecamatan Wangiwangi Kabupaten Wakatobi. Paus yang terdampar ini ditemukan sudah mati dan membusuk juga ditemukan sampah plastik seberat 5,9 kilogram dari dalam perut paus. Rosniawanti Fikri/WWF

    Temuan mereka diterbitkan di Frontiers in Marine Science. Antara Januari 2016 dan Februari 2018, tim mengambil sampel dari perairan di sekitar satu garis pantai di selatan-tengah Indonesia di mana ikan pari dan hiu paus makan.

    Para peneliti menyeret jaring halus melalui perairan ini, mensimulasikan bagaimana hewan itu perlahan berenang dengan mulut terbuka untuk menangkap plankton.

    Berdasarkan jumlah puing-puing plastik yang tertangkap di jaring-jaring ini, peneliti menghitung jumlah plastik yang akan dikonsumsi oleh keduanya menggunakan volume rata-rata air yang mereka lewati melalui mulut terbuka saat makan. Untuk memeriksa temuan mereka, tim juga bekerja dengan penyelam SCUBA setempat untuk mencari sampel muntahan dan feses hewan laut itu, kemudian dikumpulkan di tabung kotoran.

    Ada rata-rata 26 potong plastik dalam kotoran pari manta dan 66 potong dalam sampel muntah yang bisa didapatkan para peneliti. "Sebagai spesies yang terancam, baik pari manta maupun hiu paus tidak mampu menurunkan tingkat reproduksi,” kata Germanov yang juga lulusan Murdoch University itu, dikutip Daily Mail.

    Pada November 2018,  bangkai paus sperma yang isi perutnya terdapat hampir enam kilogram sampah plastik dan sandal jepit mati terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Insiden ini  menjadi "tamparan keras" bagi pemerintah Indonesia yang tidak tegas membatasi penggunaan plastik.

    GIZMODO | FRONTIERS IN MARINE SCIENCE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.