Tanah Bergerak di Tangsel, LIPI: Fenomena Landslide Jenis Nendatan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tanah bergerak di Kampung Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang juga membuat rumah warga retak, Selasa 16 Oktober 2018. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO

    Tanah bergerak di Kampung Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang juga membuat rumah warga retak, Selasa 16 Oktober 2018. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO

    TEMPO.CO, Jakarta- Fenomena tanah bergerak terjadi di wilayah Keranggan, Setu, kota Tangerang Selatan. Pergerakan tanah itu membuat enam rumah warga retak pada bagian dinding dan lantai. Menurut Peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Adrin Tohari itu merupakan fenomena landslide jenis nendatan.

    “Fenomena retakan pada permukaan tanah itu mengindikasikan gerakan tanah atau landslide jenis nendatan (slump),” ujar Adrin kepada Tempo, Jumat, 22 November 2019.

    Sebelumnya warga kampung Keranggan RT 14 RW 03, Kecamatan Setu, Kamis 21 November 2019 menceritakan,  ada enam rumah yang mengalami tanah bergerak. Kejadiannya hari Jumat siang 15 November 2019 sekitar pukul 13.00. “Tiba- tiba bagian belakang rumah saya ambruk," kata Khodijah.

    Khodijah mengatakan sebelum dinding rumahnya ambruk, tembok sempat menggelembung dan akhirnya ambles. Dia menduga fenomena ini karena musim kemarau, sehingga tanah kering dan retak.

    "Kalau siang ya saya di rumah aja sambil waspada tapi kalau malam enggak berani tidur di rumah karena takut ambruk, soalnya lantai bagian belakang dan kamar juga sudah pada bergeser dan retak-retak," ujarnya.

    Menurut Adrin, gerakan tanah ini biasanya dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi dan durasi lama yang menyebabkan kenaikan muka air tanah di dalam lereng. “Kemiringan lereng tidak perlu terjal, tetapi faktor lapisan tanah yang mudah menyerap air hujan menjadi faktor penyebab terjadinya gerakan tanah ini,” tutur Adrin.

    Gerakan tanah tersebut membuat Khodijah mengungsi setiap malam tiba. Khodijah juga sudah memindahkan perabotan dan peralatan dapurnya ke bagian depan rumah karena takut tertimpa dinding yang ambruk karena tanah bergerak.

    “Retakan di tanah itu disebabkan oleh gerakan tanah. Dampak kerusakan akan semakin besar apabila curah hujan semakin lebat dan semakin lama. Rumah-rumah penduduk yang dilalui retakan tanah dapat rubuh dan jalan bisa rusak karena amblas,” kata Adrin

    Sebelumnya pada Mei 2017, fenomena tanah bergerak terjadi di Kampung Sengkol, Muncul, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan. Lima bangunan rumah di RT 004 RW 02 juga mengalami tanah bergerak hingga mengalami longsor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.